Suara yang Bergetar di Hari Pancasila

Foto dok.Syahrus Shidieq/Media STAI Al-Fatah 

Oleh Budi Nur Salekhah | Mahasiswa Semester IV Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam, STAI Al-Fatah

Suasana apel Hari Lahir Pancasila di halaman kampus STAI Al-Fatah pada pagi hari ini terasa berbeda. Nella Novriyanti Saputri, M.Pd, yang bertindak sebagai pembina apel, menyampaikan amanat dengan cara yang tidak biasa. Setelah membacakan deklarasi Pancasila, suaranya terdengar bergetar, matanya memerah hingga hampir menjatuhkan air mata. Tidak seperti amanat pada umumnya yang berisi nasihat panjang, beliau justru menutup penyampaiannya dengan kalimat yang mengundang renungan mendalam: "Pilihan ada di kalian, ingin tetap seperti ini atau merubah bangsa. Kalau mau hancur, hancurkan saja agar Indonesia hancur sekalian ke depannya." Kalimat tersebut terdengar keras, namun di baliknya tersimpan kegelisahan dan harapan agar generasi muda tidak menjadi penonton atas berbagai persoalan yang dihadapi bangsa.

Setiap tanggal 1 Juni, rakyat Indonesia merayakan Hari Lahir Pancasila. Tanggal tersebut merupakan saat untuk mengingat kembali fondasi negara yang diperkenalkan oleh para pendiri sebagai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara. Pancasila bukan hanya lima sila yang dihafal sejak di sekolah, tetapi merupakan pedoman hidup yang seharusnya terlihat dalam tindakan masyarakat Indonesia sehari-hari.

Di tengah kemajuan zaman yang pesat, bangsa Indonesia dihadapkan pada tantangan yang semakin rumit. Masalah seperti korupsi, berita bohong, intoleransi, kesenjangan sosial, dan melemahnya rasa persatuan terus menghantui negara ini. Anehnya, banyak dari masalah-masalah tersebut muncul bukan karena kurangnya peraturan, melainkan karena nilai-nilai Pancasila sering kali hanya dipandang sebagai slogan dan upacara belaka.

Bagi para mahasiswa, Hari Lahir Pancasila sangat berarti. Mereka sering diidentikkan sebagai agen perubahan, penjaga nilai moral, dan generasi penerus yang akan menentukan arah bangsa di masa depan. Namun, peran ini tidak akan berarti jika mahasiswa hanya fokus pada pencapaian akademik tanpa memperhatikan kondisi masyarakat dan negara. Semangat Pancasila seharusnya diwujudkan dalam sikap kritis terhadap ketidakadilan, kepedulian kepada sesama, dan keinginan untuk berkontribusi dalam kemajuan bangsa.

Sebagai mahasiswa di lingkungan kampus Islam seperti STAI Al-Fatah, nilai-nilai Pancasila sangat berkaitan dengan ajaran Islam. Prinsip ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial sejalan dengan ajaran agama. Oleh sebab itu, menjalankan Pancasila bukanlah suatu hal yang bertentangan dengan keimanan, melainkan bagian dari usaha mencapai kehidupan yang lebih baik sesuai dengan tuntutan agama dan cita-cita bangsa.

Pesan yang disampaikan pembina apel di upacara pagi itu menjadi pengingat bahwa masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh pemimpin nasional, tetapi juga oleh keputusan-keputusan kecil yang diambil oleh setiap individu, terutama generasi muda. Apakah kita akan membiarkan berbagai masalah berlanjut, atau akan memilih untuk menjadi bagian dari perubahan? Pertanyaan inilah yang sejatinya tersirat dalam amanat beliau.

Hari Pancasila bukan hanya sekadar perayaan tahunan. Ini adalah kesempatan untuk kembali memperkuat komitmen terhadap prinsip-prinsip yang telah menyatukan masyarakat Indonesia sejak berdirinya negara. Pada akhirnya, masa depan bangsa ini tergantung pada pilihan yang diambil oleh generasi saat ini. Jika ingin Indonesia menjadi lebih baik, perubahan harus dimulai dari diri sendiri. Namun, jika memilih untuk tetap diam dan acuh tak acuh, maka kerusakan yang akan datang juga menjadi beban bersama.

Selamat memperingati Hari Pancasila 1 Juni 2026. Mari lestarikan Indonesia dengan nilai-nilai, persatuan, dan tindakan nyata, tidak hanya dengan ucapan.

Lebih baru Lebih lama