Puisi Oleh Nella Novriyanti Saputri, M.Pd.| Dosen STAI Al-Fatah
Indonesiaku disergap bencana
Bukan sekadar kisah tentang banjir yang sudah-sudah
Bukan pula tentang longsor kemarin yang seolah tidak nyata
Ini tentang ideologi yang musnah entah kemana
Geram, tangis, jetiran tak pernah terdengar oleh penguasa
Indonesiaku saat ini
Bukanlah rakyat pemiliknya
Merdeka hanya untuk penguasa dan orang kaya saja.
Indonesiaku sudah biasa menderita rakyatnya
Bukan karena tidak ada yang mampu memperbaiki
Yang pintar tentu banyak
Berpendidikan dan intelektual apa lagi
Namun yang minim adalahempati, Nurani, dan jiwa yang mengerti luka
Hingga buta, tuli, yang berprestasi dalam caci maki
Adil itu apa?
Rakyat itu siapa?
Yang dimau hanya harta setelah berkuasa
Kitis dan mengkritisi malah dipenjara bahkan terluka
Mengemontari dianggap menantang dan makar
Rakyat dibungkam, kritikus diancam
Realitanya,
Rakyatku hidup dalam pelik kehidupan
Tertatih namun tetap harus mencari nafkah hingga mati
Atas dasar cinta dan bela Negara, penguasa menghidap segala yang ada
Katannya ada lima pilar ideologi Indonesia
PANCASILA
Ketuhanan yang maha Esa
Tapi malah sibuk dalam perpecahan dan mencari agama mana yang benar
Kemanusiaan yang adil dan beradap
Adil untuk siapa? Berlakukah untuk kalangan bawah?
Dan adab sudah lama dikesampingkan
Persatuan Indonesia
Hah, yang bersatu hanya mereka sesuai kepentingan masing-masingnya
Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/perwakilan
Hanya menjadi kalimat yang tak bermakna karena standar musyawarah
bukanlah rakyatnya.
Yang diwakili juga bukan suara rakyatnya
Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
Jika kita sudah adil, tidak aka ada hukum yang timpang sebelah
Jika kita sudah adil
Tidak akan ada yang namanya sengsara.
Tentu hal ini tidak masalah
Bukankah yang berkuasa memang harus menguasai?
Yang berkedudukan memang harus menduduki??
Masalahnya, apakah kita kaum intelektual di sini
Yang katanya berakhlakul karimah
Berlabelkan pejuang kemanusiaan
Akankah besuara atau turut bungkam seribu Bahasa
Hingga nanti kita mengulang sejarah
Hianati pahlawan bangsa
Toh, faktanya kita memang tak pernah merdeka.
