Oleh Budi Nur Salekhah | Mahasiswa Semester IV Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam, STAI Al-Fatah
Kemarin, 17 Mei, Indonesia kembali memperingati Hari Buku Nasional. Bisa jadi, beberapa orang hanya melewatkannya. Tanpa hari libur resmi, tanpa perayaan yang besar, dan tanpa suara kembang api yang menghiasi malam. Hari itu berlalu seperti hari-hari biasa—orang bekerja, mahasiswa berpacu dengan tenggat waktu, pelajar sibuk dengan tugas, dan beberapa dari kita bahkan melupakan tanggalnya.
Namun justru di sinilah arti Hari Buku Nasional menjadi sangat berarti.
Buku sebenarnya tidak pandai menarik perhatian.
Ia tidak berbunyi seperti bunyi pemberitahuan. Tidak berkilau seperti layar ponsel. Juga tidak memiliki algoritma yang memaksa kita untuk menggulir tanpa henti. Buku hanya diam di rak tua, di sudut perpustakaan, di meja belajar berdebu, atau dalam tas seseorang yang masih percaya bahwa membaca dapat mengubah hidupnya.
Menyenangkan untuk dicatat bahwa dari benda yang tenang tersebut banyak sekali perubahan besar yang dihasilkan.
Revolusi dimulai dari pemikiran.
Peradaban dibangun melalui tulisan.
Dan manusia belajar menjadi lebih baik melalui membaca.
Hari Buku Nasional yang diperingati setiap 17 Mei bukan hanya seremoni untuk mengenang keberadaan buku. Ia mengingatkan kita bahwa sebuah bangsa yang melupakan budaya baca akan semakin kehilangan kemampuan berpikir. Sebab, ketika aktivitas membaca ditinggalkan, manusia menjadi gampang diprovokasi, mudah percaya pada informasi yang salah, dan semakin malas untuk mendalami sesuatu.
Saat ini kita berada di era yang serba cepat. Semua ingin diringkas. Semua ingin serba instan. Terkadang orang hanya membaca judul dan merasa sudah memahami isi dunia. Padahal, membaca lebih dari sekadar melihat huruf; ia juga melatih kesabaran berfikir.
Buku mengajarkan sesuatu yang semakin langka saat ini: ketenangan.
Di tengah bunyi yang membisingkan, buku mengajak kita untuk duduk tenang.
Di tengah banjir pendapat, buku mengundang kita untuk berpikir dengan perlahan.
Dan di tengah budaya yang viral, buku menunjukkan bahwa hal yang mendalam sering kali tidak ramai.
Mungkin itulah mengapa banyak tokoh besar memiliki kedekatan dengan buku.
Para cendekia menulis hingga larut malam. Para pejuang kemerdekaan berdialog melalui bacaan. Tokoh-tokoh besar dunia lahir dari kebiasaan membaca yang panjang. Buku bukan hanya sekadar sumber informasi, melainkan juga membentuk cara pandang seseorang terhadap hidup.
Namun, ada hal yang lebih menarik daripada sekadar membaca: bagaimana sebuah buku bisa menyelamatkan seseorang meskipun tak pernah dikenal.
Ada yang menemukan harapan dalam satu kalimat.
Ada yang kembali bangkit setelah membaca satu halaman.
Ada yang akhirnya merasa dipahami setelah bertahun-tahun merasa sendirian.
Kadang buku berfungsi seperti sahabat yang tidak banyak berbicara, tetapi selalu hadir di saat-saat yang tepat.
Ironisnya, di zaman modern ini, kita semakin terhubung dengan teknologi tapi semakin jauh dari bacaan yang utuh. Kita terbiasa membaca potongan singkat, tetapi kesulitan menyelesaikan satu buku hingga tuntas. Konsentrasi kita terpecah oleh berbagai hal, dan tanpa disadari, kemampuan untuk merenung mulai berkurang.
Oleh karena itu, Hari Buku Nasional seharusnya tidak hanya berhenti pada postingan media sosial yang menyerukan “ayo membaca”. Yang lebih penting adalah menghidupkan kembali kebiasaan kecil: menyediakan waktu untuk benar-benar membaca.
Tidak perlu langsung memilih buku filsafat yang tebal.
Tidak selalu harus memilih buku akademis yang berat.
Mulailah dengan buku-buku yang membuat kita betah membuka halaman demi halaman.
Sebab kecintaan terhadap membaca tidak muncul dari paksaan, tetapi dari momen menyenangkan antara seseorang dengan buku.
Dan mungkin, setelah perayaan Hari Buku Nasional yang baru saja berlalu, ada satu pertanyaan sederhana yang patut kita pikirkan hari ini:
Kapan terakhir kali kita membuka sesuatu yang benar-benar mengubah cara pandang kita?
Sebab bisa jadi, perubahan besar dalam hidup seseorang tidak dimulai dari perayaan yang megah atau ucapan panjang. Bisa jadi semua itu berawal dari satu halaman yang dibaca dalam keheningan malam hari.
Maka meskipun tanggal 17 Mei telah berlalu, semangat Hari Buku Nasional seharusnya tidak berhenti. Karena membaca bukan sekadar tentang satu hari tertentu. Ia adalah perjalanan panjang untuk menjaga pikiran tetap aktif dan hati tetap terbuka.
Dan mungkin, setelah kamu membaca tulisan ini, ada satu buku yang ingin kamu baca kembali.
