Sumber foto minanews.net
Tajuk Rasil, Oleh Angga Aminudin, Kaprodi Ekonomi Syariah STAI Al-Fatah
Setiap tahun, tanggal 15 Mei menjadi momen kelabu bagi bangsa Palestina dan seluruh umat Islam di dunia. Pada hari itu, tahun 1948, terjadi peristiwa yang mengubah wajah Timur Tengah selamanya—Nakbah, atau "Malapetaka Besar". Lebih dari 700.000 warga Palestina diusir dari tanah leluhur mereka, ribuan orangsyahid, lebih dari 500 desa dihancurkan, dan sebuah bangsa yang telah berdiri ribuan tahun tiba-tiba menjadi pengungsi di negeri sendiri. Namun, Nakbah bukan sekadar catatan sejarah kelam; ia adalah cermin yang memaksa kita untuk merenung: apa makna sebenarnya dari perjuangan membela Palestina bagi umat Islam hari ini?
Nakbah bukanlah kecelakaan sejarah atau konflik dua pihak yang setara seperti kerap digambarkan oleh narasi Barat. Ia adalah proyek kolonial sistematis yang mengusir penduduk asli untuk mendirikan negara eksklusif berbasis etnis (“Apartheid”). Sementara dunia memperingati sejarah kontroversial Holocaust dan memahami trauma bangsa Yahudi, tragisnya, trauma Nakbah bangsa Palestina kerap dilupakan, diredam, atau bahkan diputarbalikkan. Yang lebih menyakitkan, peristiwa ini terjadi di saat umat Islam pasca-kolonial sedang dalam kondisi terpecah-pecah. Kekuasaan dikuasai oleh rezim-rezim oportunis, sementara rakyat Palestina ditinggalkan menghadapi mesin perang yang didukung oleh kekuatan imperialisme global. Oleh karena itu, Nakbah bukan hanya tragedi Palestina, tetapi juga cermin kehancuran solidaritas umat Islam.
Di luar dimensi keagamaan, perjuangan Palestina adalah perjuangan kemanusiaan universal melawan apartheid dan pembersihan etnis. Sistem apartheid Israel—seperti diakui oleh organisasi hak asasi manusia internasional termasuk Human Rights Watch dan Amnesty International—memperlakukan warga Palestina sebagai warga kelas dua, membatasi pergerakan mereka, merampas tanah mereka, dan membunuh anak-anak serta perempuan dengan sadis. Umat Islam memiliki tanggung jawab moral untuk menolak ketidakadilan di mana pun terjadi. Membela Palestina, adalah implementasi ajaran Islam tentang keadilan dan perlawanan terhadap penindasan.
Sayangnya, perjuangan Palestina juga mengungkap realitas pahit tentang dinamika kekuasaan global. Veto berkali-kali di Dewan Keamanan PBB, normalisasi hubungan dengan rezim pendudukan oleh beberapa negara Muslim, dan kesunyian dunia terhadap pembantaian di Gaza, semuanya menunjukkan bahwa sistem internasional didesain untuk melindungi kepentingan kekuatan besar, bukan keadilan.
Namun, justru di sinilah makna perjuangan umat Islam menjadi relevan. Jika rezim-rezim kekuasaan gagal, maka peran rakyat—umat Islam global—menjadi semakin penting. Gerakan Boycott, Divestment, Sanctions (BDS), aksi solidaritas massa di seluruh dunia, dan advokasi media sosial adalah bentuk perjuangan kontemporer yang membuktikan bahwa kekuatan rakyat masih mampu menggoyang fondasi ketidakadilan.
Menariknya, generasi muda umat Islam hari ini menghadapi tantangan unik. Mereka tumbuh dengan narasi media massa yang kerap memutarbalikkan realitas Palestina, di lingkungan yang normalisasi dan akrab dengan kehadiran produk-produk pendukung apartheid, dan di tengah arus informasi yang sengaja membingungkan. Namun, justru generasi inilah yang menunjukkan gelombang kesadaran baru. Dari mahasiswa di kampus-kampus Eropa dan Amerika yang mendirikan "Gaza Solidarity Encampments", hingga influencer Muslim yang menggunakan platform digital untuk mengedukasi jutaan pengikut, hingga aktivis di Indonesia, Malaysia, Turki, dan seluruh dunia yang terus menyuarakan kebenaran—ini adalah wajah baru perjuangan Palestina. Mereka membuktikan bahwa Nakbah bukan masa lalu yang mati, melainkan api yang terus menyala menuntut keadilan.
Merenungkan Nakbah berarti menyadari bahwa luka itu belum sembuh. Pengusiran berlanjut, pemukiman ilegal terus dibangun, dan bangsa Palestina masih hidup di bawah pendudukan militer terlama dalam sejarah manusia modern. Namun, renungan juga harus menjadi batu loncatan untuk aksi. Membela Palestina bagi umat Islam adalah perjuangan multi-dimensi: spiritual, kemanusiaan, dan politis. Ini juga tentang mempertahankan kehormatan Masjidil Aqsa, menolak apartheid, dan menuntut keadilan dalam sistem internasional yang tidak adil. Lebih dari itu, ia adalah tentang menjaga kemanusiaan kita sendiri—karena ketika kita diam di hadapan ketidakadilan, kita kehilangan sebagian dari jiwa kita.
Seperti kata pengamat Palestina professor Edward Said: "Palestina adalah ujian moral bagi dunia." Bagi umat Islam, ia juga adalah ujian iman dan solidaritas. Nakbah mengajarkan kita bahwa tanah bisa dirampas, rumah bisa dihancurkan, tapi semangat perjuangan untuk keadilan tidak bisa dipadamkan. Selama ada yang melawan, Palestina hidup. Dan selama umat Islam memegang teguh prinsip keadilan, perjuangan itu akan terus berarti. 15 Mei bukan hanya hari berkabung. Ia adalah hari untuk bangkit.
Wallahu a‘lam bishshawab
