![]() |
| Ilustrasi by Pinterest |
Oleh Khodijah Nurul Husna | Mahasiswa Semester VI Prodi Komunikasi & Penyiaran Islam STAI Al Fatah
Perkembangan teknologi digital dalam satu dekade terakhir telah mengubah cara manusia berkomunikasi, bekerja, dan mengambil keputusan secara fundamental. Data terbaru menunjukkan betapa pesatnya adopsi teknologi kecerdasan buatan (AI) dan internet di seluruh dunia, sekaligus menyingkap dampak sosial yang menyertainya.
Pada semester I/2025, jumlah pengguna aplikasi kecerdasan buatan global mencapai 691 juta pengguna, melesat 40,16% dibandingkan semester sebelumnya. ChatGPT menjadi aplikasi AI paling banyak digunakan di dunia dengan 400 juta pengguna aktif per Maret 2025, sementara pendapatan industri aplikasi AI diperkirakan mencapai US$13,7 miliar pada 2025 dan terus bertumbuh hingga 2030.
Di Indonesia, hasil Survei Profil Internet Indonesia 2026 yang dirilis Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada 15 Juni 2026 mencatat jumlah pengguna internet mencapai 235,26 juta jiwa, atau 81,72% dari total populasi 287,30 juta jiwa. Artinya, dari setiap 100 orang Indonesia, lebih dari 81 orang telah terhubung ke internet, dengan mayoritas menghabiskan 4–6 jam per hari online, atau sekitar 28–42 jam dalam seminggu.
Secara global, data Hootsuite (dikutip Liputan6.com dari Gizchina, 28 Januari 2021) mencatat pengguna smartphone dunia telah mencapai 5,22 miliar orang, pengguna internet 4,66 miliar jiwa, dan pengguna media sosial 4,2 miliar—dengan pertumbuhan tahunan sekitar 1% menurut laporan PBB.
Di masa lalu, manusia mengandalkan surat dan komunikasi langsung untuk bertukar informasi. Cara ini, meski lambat, justru menumbuhkan hubungan yang erat dan minim kesalahpahaman karena pesan disampaikan secara penuh dan personal. Kini, segala sesuatu—mulai dari mengobrol hingga memesan barang—dapat dilakukan lewat genggaman tangan.
Kemudahan ini membuat interaksi langsung antarmanusia berkurang, dan teknologi tidak lagi sekadar alat bantu komunikasi, melainkan infrastruktur utama yang memengaruhi perilaku, keputusan, dan cara berpikir manusia.
Dua Sisi Mata Pisau
Di satu sisi, kehadiran ruang digital telah mendemokratisasi akses informasi secara luas dan menghadirkan konektivitas global yang mampu melompati sekat jarak. Teknologi tidak hanya menciptakan peluang ekonomi baru dan memicu inovasi serta penelitian yang jauh lebih cepat, tetapi juga mentransformasi efisiensi dalam pekerjaan sehari-hari.
Lebih dari itu, dunia digital turut memberikan dampak sosial yang inklusif melalui penyediaan pendidikan online yang lebih terjangkau serta sajian hiburan digital yang beragam bagi masyarakat modern.
Namun di sisi lain, kemudahan ini ibarat buah simalakama yang membawa ancaman nyata bagi tatanan kehidupan manusia. Ketergantungan yang akut pada gawai kerap memicu masalah privasi dan kebocoran keamanan data pribadi, hingga berujung pada kecanduan internet yang merusak ritme hidup.
Ruang siber yang bebas juga menjadi ladang subur bagi penyebaran informasi palsu (hoaks), tindakan cyberbullying, serta eksposur berbahaya terhadap konten-konten negatif. Alih-alih mendekatkan, dominasi layar ini justru melahirkan penurunan interaksi sosial secara langsung di dunia nyata.
Ketergantungan manusia pada dunia digital bukan lagi sekadar asumsi, melainkan realitas yang terekam jelas dalam data. Tantangan ke depan bukan menolak teknologi, melainkan menyeimbangkan efisiensi yang ditawarkannya dengan upaya menjaga keterampilan, daya pikir kritis, dan kualitas hubungan antarmanusia agar tidak tergerus oleh kemudahan yang ditawarkan mesin dan algoritma.v
