Dampak Kenaikan Kurs Dolar terhadap Kehidupan Petani dan Peternak


Sumber foto: Vibiznews – Forex

Oleh  Zikril Hamid dan Heru Ubaidillah | Mahasiswa Semester II STAI Al - Fatah

Kenaikan nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah kembali menarik perhatian publik. Melemahnya rupiah tidak hanya berdampak pada sektor industri dan perdagangan, tetapi juga dirasakan oleh petani dan peternak di sejumlah daerah. Sebagai kelompok yang memiliki peranan penting dalam menjaga ketahanan pangan nasional, petani dan peternak sangat terpengaruh oleh fluktuasi nilai tukar mata uang tersebut.

Di tengah kekhawatiran masyarakat mengenai kenaikan nilai dolar AS, Presiden Prabowo Subianto melontarkan pernyataan yang menimbulkan kontroversi, "Mau dolar berapa ribu kek, kan kalian di desa-desa nggak pakai dolar. " Memang benar bahwa untuk transaksi sehari-hari, masyarakat desa menggunakan rupiah, bukan dolar AS. Namun, dalam kenyataannya, petani dan peternak tetap merasakan dampak dari penguatan dolar melalui lonjakan harga pupuk, pestisida, benih, pakan ternak, obat-obatan, serta alat-alat mesin pertanian yang sebagian raw materialnya berasal dari impor. Ketika nilai dolar meningkat dan rupiah melemah, biaya produksi pun meningkat, sehingga pendapatan petani dan peternak bisa berkurang. Oleh karena itu, meskipun masyarakat di pedesaan tidak bertransaksi menggunakan dolar setiap hari, perubahan nilai tukar dolar tetap memengaruhi biaya operasional, harga kebutuhan pokok, serta kesejahteraan para petani dan peternak secara tidak langsung.

Salah satu efek yang paling nyata bagi petani adalah meningkatnya harga sarana produksi pertanian. Banyak kebutuhan seperti pupuk, pestisida, herbisida, dan beberapa jenis benih masih tergantung pada bahan baku yang diimpor. Ketika dolar menguat dan nilai rupiah melemah, biaya impor menjadi lebih tinggi, sehingga harga produk-produk tersebut juga naik di pasar.

Lonjakan harga pupuk dan pestisida meningkatkan biaya produksi pertanian. Petani yang sebelumnya bisa membeli kebutuhan dengan harga tertentu kini harus merogoh kocek lebih dalam. Keadaan ini jelas menjadi beban, terutama bagi petani kecil dengan modal yang terbatas. Akibatnya, beberapa petani terpaksa mengurangi penggunaan pupuk atau pestisida, yang pada akhirnya dapat mengurangi hasil panen.

Bukan hanya petani, para peternak juga mengalami dampak yang sama. Salah satu komponen terbesar dalam usaha peternakan adalah pakan ternak. Bahan-bahan pakan seperti bungkil kedelai, jagung impor, vitamin, dan suplemen ternak, masih mengandalkan pasar internasional. Ketika dolar naik, harga pakan ikut melonjak sehingga biaya pemeliharaan ternak menjadi lebih berat. Bagi peternak ayam, sapi, kambing, maupun ikan, peningkatan biaya pakan dapat mengurangi keuntungan bahkan berpotensi menyebabkan kerugian jika harga jual hasil ternak tidak juga meningkat.

Selain itu, penguatan nilai tukar dolar juga berdampak pada harga bahan bakar minyak (BBM). Meskipun pemerintah berusaha untuk menjaga stabilitas harga energi, penguatan dolar dapat berakibat pada meningkatnya biaya impor minyak mentah. Jika harga BBM naik, biaya transportasi hasil pertanian dan peternakan dari desa ke pasar juga ikut meningkat. Hal ini berakibat mengerikan, di mana keuntungan yang diperoleh petani dan peternak semakin menyusut karena sebagian dari penghasilan mereka harus digunakan untuk menutupi biaya operasional.

Disamping itu peningkatan nilai dolar bisa memberikan keuntungan untuk petani yang mengolah komoditas ekspor seperti kopi, kakao, teh, dan bumbu. Produk yang diekspor menjadi lebih menarik di pasar internasional karena nilai dolar yang tinggi tersebut akan menghasilkan pendapatan lebih ketika diubah ke rupiah. Hal serupa juga dialami oleh pelaku usaha peternakan yang menjual produk mereka ke luar negeri. Namun, tidak semua petani dan peternak merasakan keuntungan ini karena banyak dari mereka lebih memilih untuk berfokus pada pasar domestik.

Bagi masyarakat desa yang bergantung pada pertanian dan peternakan, situasi ini bisa memengaruhi kesejahteraan keluarga. Ketika biaya produksi meningkat tetapi harga jual hasil panen dan produk ternak tidak sejalan, pendapatan mereka cenderung berkurang. Akibatnya, daya beli masyarakat desa pun melemah dan perekonomian lokal menjadi kurang aktif.

Menghadapi kondisi ini, petani dan peternak perlu memperkuat kemandirian produksi. Penggunaan pupuk organik, pemanfaatan benih lokal, pengembangan pakan alternatif yang berbasis pada sumber daya lokal, dan penerapan teknologi yang lebih efisien bisa menjadi strategi untuk mengurangi ketergantungan pada produk impor. Selain itu, penguatan kelompok tani, kelompok peternak, dan koperasi juga sangat penting agar mereka bisa memiliki posisi tawar yang lebih baik dalam mendapatkan sarana produksi dengan harga yang lebih terjangkau.

Secara keseluruhan, kenaikan nilai dolar memberikan dampak signifikan terhadap sektor pertanian dan peternakan. Meningkatnya biaya produksi, tingginya harga sarana usaha, dan naiknya beban operasional menjadi tantangan yang harus dihadapi. Oleh karena itu, dibutuhkan upaya bersama dari berbagai pihak untuk memastikan keberlanjutan sektor pertanian dan peternakan, sehingga petani dan peternak tetap dapat berproduksi dan mendukung ketahanan pangan nasional di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Untuk menghadapi tantangan tersebut, berbagai langkah solusi perlu diambil. Petani bisa mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia yang diimpor dengan menggunakan pupuk organik dari limbah pertanian dan peternakan. Perluasan penggunaan benih lokal unggul juga diperlukan untuk menekan biaya produksi. Di sisi lain, peternak bisa mengembangkan pakan alternatif yang berbasis pada bahan lokal seperti dedak, hijauan, dan limbah pertanian yang masih memiliki nilai gizi.

Akan tetapi, penguatan kelompok tani, kelompok peternak, dan koperasi adalah langkah penting untuk meningkatkan daya tawar dalam pembelian sarana produksi secara kolektif dengan harga yang lebih rendah. Penerapan teknologi di bidang pertanian dan peternakan yang efisien juga bisa membantu menurunkan biaya usaha. Diversifikasi usaha, seperti mengolah hasil panen atau hasil ternak menjadi produk dengan nilai tambah, dapat menjadi sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat desa.

Secara keseluruhan, peningkatan nilai dolar memberikan dampak nyata bagi sektor pertanian dan peternakan, terutama melalui naiknya biaya produksi dan operasional. Namun, dengan memperkuat kemandirian, memanfaatkan sumber daya lokal, dan meningkatkan kerja sama antar petani dan peternak, dampak tersebut dapat diminimalkan sehingga kesejahteraan masyarakat desa dan ketahanan pangan nasional tetap terjaga.

Lebih baru Lebih lama