Oleh Budi Nur Salekhah | Mahasiswa Semester IV Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam, STAI Al-Fatah
Setiap tahun pada tanggal 20 Mei, rakyat Indonesia merayakan Hari Kebangkitan Nasional. Namun, di tengah derasnya informasi di media sosial, tren yang cepat berubah, dan gaya hidup modern yang serba cepat, banyak yang mempertanyakan: apakah semangat kebangkitan ini masih berarti bagi generasi muda? Jawabannya adalah bahwa semangat tersebut tidak hanya relevan, tetapi juga semakin vital. Harkitnas bukan hanya sekedar peringatan sejarah yang tercantum dalam buku, tetapi juga pengingat bahwa kemajuan bangsa dimulai dari kesadaran anak mudanya. Di masa lalu, perjuangan dilakukan untuk melawan penjajahan fisik, saat ini generasi muda menghadapi "penjajahan" yang berbeda berupa krisis moral, penyebaran informasi yang salah, budaya instan, serta berkurangnya rasa cinta terhadap bangsa sendiri.
Dalam catatan sejarah, pada tanggal 20 Mei 1908, organisasi Boedi Oetomo didirikan sebagai awal dari kebangkitan nasional Indonesia. Organisasi yang digagas oleh siswa STOVIA itu menghadirkan semangat baru: perjuangan tidak hanya melalui perlawanan fisik, tetapi juga melibatkan pendidikan, persatuan, dan pemikiran. Dari ruang-ruang belajar yang sederhana, muncul kesadaran bahwa rakyat Indonesia harus mandiri dan berdaya. Semangat tersebut menjadi pendorong bagi lahirnya berbagai gerakan nasional yang mengantarkan Indonesia menuju kemerdekaan. Kebangkitan nasional pada kala itu merupakan tentang keberanian untuk berpikir maju dan keyakinan bahwa rakyat Indonesia dapat menentukan nasibnya sendiri.
Saat ini, lebih dari seratus tahun kemudian, tantangan yang dihadapi generasi muda telah berubah. Jika dulunya penjajah datang membawa senjata, kini tantangan muncul lewat perangkat digital yang ada di tangan mereka. Banyak anak muda yang kehilangan arah karena terjebak dalam gaya hidup konsumtif, terobsesi pada pengakuan di media sosial, dan gampang terpengaruh oleh berita palsu serta provokasi. Di sisi lain, persaingan di tingkat global memaksa generasi muda untuk terus beradaptasi, kreatif, dan berpikir kritis. Secara ironis, di era di mana informasi sangat mudah diakses, masih banyak yang malas membaca, enggan berdiskusi, serta lebih tertarik pada sensasi sesaat ketimbang mengembangkan diri. Inilah tantangan besar untuk kebangkitan modern: bagaimana generasi muda dapat menjadi teknologi cerdas tanpa kehilangan nilai dan identitas kebangsaannya.
Semangat Harkitnas sekarang dapat diwujudkan dengan tindakan-tindakan kecil namun berarti. Pelajar bisa berkontribusi dengan giat belajar dan meningkatkan kemampuan literasi. Mahasiswa dapat menghasilkan gagasan dan karya yang berguna bagi masyarakat. Anak muda di dunia maya juga bisa turut serta dalam kebangkitan dengan menyebarkan informasi yang positif, menanggapi hoaks, dan menciptakan lingkungan digital yang sehat. Kebangkitan tidak selalu berwujud tindakan besar; terkadang ia dimulai dengan keberanian untuk bersikap disiplin, jujur, serta peduli terhadap lingkungan, sambil terus berupaya mengasah diri. Di era digital, generasi muda Indonesia memiliki lebih banyak peluang dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Teknologi bisa berfungsi sebagai alat untuk belajar, berkarya, bahkan membawa nama Indonesia ke kancah internasional. Yang diperlukan hanyalah kesadaran akan pentingnya bahwa masa depan bangsa tidak akan terbangun oleh mereka yang hanya menjadi penonton.
Hari Kebangkitan Nasional seharusnya menjadi saat untuk merenung bagi semua generasi muda di Indonesia. Negara ini kaya akan individu cerdas, tetapi masih sangat membutuhkan lebih banyak pemuda yang peka, berintegritas, dan memiliki semangat untuk memberikan kontribusi. Para pendiri negara telah menunjukkan bahwa perubahan signifikan dapat dimulai dari cita-cita dan keberanian generasi muda. Sekarang adalah waktu bagi generasi saat ini untuk meneruskan semangat kebangkitan tersebut. Indonesia memerlukan pemuda yang tidak hanya berperan di dunia digital, tetapi juga aktif dalam tindakan nyata dan pengabdian. Karena sesungguhnya, kebangkitan suatu bangsa tidak dilihat dari seberapa meriah perayaannya, tetapi dari seberapa besar keinginan generasi mudanya untuk bergerak, belajar, dan berinovasi demi Indonesia.
