Khidmat di Kaki Gunung Kencana: Camp Ramadhan MALTARA

Sumber foto Dokumentasi Maltara

Oleh Tarmizi Taher | Ketua Maltara STAI Al-FATAH 

Awal Perjalanan

Jumat sore, 27 Februari 2026, saat matahari mulai redup dan tenggelam di cakrawala barat, sekelompok mahasiswa pecinta alam dari STAI Al-Fatah MALTARA (Mahasiswa Lintas Alam Raya) berangkat menuju Gunung Kencana yang terletak di Sukamakmur, Bogor. Kegiatan ini lebih dari sekadar berkemah biasa; kami memiliki tujuan istimewa, yaitu "menjalani ibadah Ramadhan di alam terbuka". Kami berusaha menggabungkan rasa spiritual dan cinta terhadap alam (tadabbur dan tafakur alam).

Kegiatan dari organisasi mahasiswa ini dipandu oleh seorang dosen dari STAI Al-Fatah, Pak Angga Aminudin. Dalam acara ini, beliau bukan hanya sebagai pembimbing akademis, tetapi juga sebagai pemandu spiritual dan pelatih bertahan hidup di alam liar. Beliau mengajarkan bahwa "pendakian tertinggi adalah perjalanan menuju kesadaran diri, dan bulan Ramadhan adalah waktu yang paling tepat untuk mencapai hal itu."

Sore hingga Malam: Berbuka Puasa di Kaki Gunung

Sesampainya di basecamp Gunung Kencana, kami disambut oleh udara sejuk pegunungan dan aliran lembut sungai kecil yang mengalir tidak jauh dari lokasi. Pemandangan yang tak kalah menariknya adalah danau kecil yang mempercantik area sekitar kaki gunung. Waktu untuk berbuka semakin dekat, dan persiapan dimulai. Tim dibagi ke dalam beberapa tugas; beberapa orang sibuk menyiapkan makanan berbuka, lainnya memasang tenda, dan sebagian lagi mendokumentasikan momen ini.

Berbuka puasa bersama di luar ruangan memberikan pengalaman tersendiri. Tidak ada meja mewah, hanya matras dan terpal yang ditempatkan di atas rumput. Hidangannya pun sederhana: kurma, air mineral, beberapa buah, dan makanan simpel yang kami bawa dari kampus. Namun, rasa syukur kami meluap saat azan Maghrib terdengar dari speaker handphone, dan kami berkumpul dalam satu barisan untuk berbuka. "Sekarang kita merasakan bagaimana Rasulullah SAW dan sahabat-sahabatnya berbuka di padang pasir—mungkin sederhana, tetapi dipenuhi berkah," ucap dosen pembina dengan senyuman, mengingatkan kami akan inti Ramadhan yang sering terlupakan amid kehidupan kota yang sibuk.

Malam Tadarus dan Sholat Berjamaah

Setelah berbuka, kami melanjutkan dengan sholat Maghrib dan berjamaah Isya. Malam itu semakin khidmat dengan kegiatan tadarus Al-Qur'an. Di bawah sinar lampu tenda dan hangatnya api unggun, suara bacaan ayat-ayat suci mengalun indah di antara pepohonan, dinyanyikan oleh mahasiswa secara bergantian. Salah satu mahasiswa ditunjuk oleh dosen pembina untuk memimpin tadarus dengan tajwid yang merdu, sementara mahasiswa lainnya mengikuti bacaan.

Sholat Tarawih dilaksanakan di area terbuka di sekitar tenda yang telah kami bersihkan dari ranting dan batu. Beberapa sejadah diletakkan di atas tanah, kiblat ditentukan oleh kompas, dan seorang imam dipilih dari mahasiswa yang terbaik hafalannya. Rasanya seperti kembali ke awal masa Islam, ketika umat Muslim sholat di mana saja asalkan menghadap Baitullah. Sholat berjamaah di alam terasa istimewa, "ungkap salah satu mahasiswa, Faris. " Tak ada dinding sebagai penghalang, kami langsung berhadapan dengan langit yang penuh bintang. Rasanya sangat dekat dengan Sang Pencipta.

Tengah malam: Tantangan Badai

Acara berlanjut dengan sesi berbagi dari Maltara yang membahas tentang pengetahuan dasar pendakian dan penjelajahan hutan. Ketika malam memasuki tengah malam, kami mengambil waktu sejenak untuk beristirahat. Beberapa jam kemudian, kami bangun untuk sahur secara berkelompok. Namun, tiba-tiba saja, rintangan datang menghampiri. Sekitar pukul 03. 00 WIB, angin kencang menyerang tempat camping kami. Hujan deras mengguyur tenda-tenda yang telah dipasang sejak sore. Meskipun tidak ada suara petir, angin yang kencang bergemuruh di antara lembah Gunung Kencana. Lalu, kejadian paling menegangkan pun terjadi; satu tenda yang menampung peralatan dan makanan runtuh tertiup angin kencang!

Situasi menjadi kacau balau. Beberapa mahasiswa mulai panik. Namun, dosen pembina dengan tenang memberikan arahan: "Tetap tenang, ingat kepada Allah. Ini adalah ujian, bukan musibah. Mari kita cari tempat yang aman! " Dengan cepat kami berkoordinasi, bekerja sama untuk menahan tenda-tenda yang masih berdiri dan memindahkan peralatan masak ke saung yang tersedia di area perkemahan. Beberapa mahasiswa tampak basah kuyup saat memastikan bahwa semua pindah ke lokasi yang lebih aman dan tidak ada barang yang tertinggal di tenda yang runtuh. "Saya ingat kata-kata dosen pembina: 'Di gunung, kita diajarkan untuk bersabar dan bertawakkal. Cuaca bisa berubah kapan saja, tetapi iman harus tetap kokoh," cerita Sufi, salah satu anggota Maltara.

Di saung, tim yang bertanggung jawab pada konsumsi mulai menyiapkan makan sahur. Nasi disajikan dengan sayuran, gulai ayam sisa dari malam sebelumnya, serta sarden pedas menjadi hidangan istimewa bagi tim Maltara. Meski angin kencang dan hujan semakin menggila, semangat kami untuk menikmati hidangan sahur tidak surut. Sebenarnya, kalau kami memutuskan untuk tidak sahur pun, kami yakin bisa menjalani puasa hari itu. Namun, karena kami sangat menyadari betapa besar pahalanya bagi mereka yang sahur, tentu kami merasa perlu untuk melaksanakan ini agar tidak terlewatkan. Apalagi menu sahur kali ini cukup menggugah selera.

Pagi Hari: Refleksi dan Dokumentasi

Alhamdulillah, saat waktu subuh tiba, hujan mulai mereda. Langit pelan-pelan berwarna merah di ufuk timur, menandakan datangnya fajar. Walaupun kami merasa lelah dan beberapa tenda basah, semangat kami tidak pudar. Usai sholat Subuh bersama, sebagian dari kami beristirahat sejenak untuk memulihkan tenaga setelah kurang tidur semalam. Sembari menunggu matahari terbit, di saung dengan pemandangan lembah yang berkabut, beberapa mahasiswa kembali ke tenda yang masih berdiri kokoh.

Kegiatan Ramadhan Camp ditutup pada pagi hari tanggal 28 Februari 2026. Kami mulai merapikan barang-barang dan bersiap untuk turun dari Gunung Kencana dengan hati yang lebih lega, walaupun fisik sedikit lelah. Tenda yang runtuh telah diperbaiki, barang-barang aman, dan yang terpenting, tidak ada anggota yang terluka atau sakit. Sebelum berangkat pulang, seluruh tim berfoto-foto di lokasi. Beberapa orang sibuk dengan dokumentasi pribadi dan lainnya fokus pada kegiatan bersama. Para mahasiswa tampak antusias, menyiratkan wajah-wajah yang terlihat lebih dewasa setelah melewati malam yang penuh ujian.

Kepulangan, Meninggalkan Jejak di Alam

Setelah memastikan semua peralatan siap, kami segera bersiap untuk pulang. Perjalanan pulang diwarnai dengan tawa dan canda, tetapi juga diskusi yang mendalam. Kami menyadari bahwa kegiatan ini lebih dari sekadar camping atau buka puasa bersama. Ini adalah "sekolah kehidupan"—belajar tentang kepemimpinan di tengah krisis, kebersamaan tim, dan yang terpenting, bagaimana iman dapat dibentuk melalui merenung dan menghadapi ujian alam.

Kali ini, Maltara telah membuktikan bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam kelas. Terkadang, pelajaran paling berharga datang dari angin kencang di malam hari, dari hujan yang membasahi tenda, dan dari suara pembacaan Al-Qur'an yang terdengar di antara pepohonan. "Semoga Ramadhan kali ini lebih bermakna," harapan kami serentak saat meninggalkan Sukamakmur. Dan memang itulah kenyataannya. “Penuh khidmat, lancar, dan diberkati.” Wallahu a'alam…

Artikel ini dibuat sebagai catatan kegiatan Ramadhan Camp MALTARA STAI Al-Fatah 2026. Harapan kami, pengalaman ini bisa menginspirasi mahasiswa lain untuk menghubungkan kecintaan mereka terhadap alam dengan peningkatan spiritual pada bulan Ramadhan.



Lebih baru Lebih lama