BASHIRAH MEDIA

5 Tradisi Idul Adha di Indonesia

Foto : ilustrasi

BASHIRAHNEWS.COM - 
Bagi umat muslim, Hari Raya Idul Adha adalah hari besar keagamaan yang selalu ditunggu-tunggu. Tahun ini, Hari Raya Idul Adha jatuh pada 20 Juli 2021. Namun, sayangnya di tengah pandemi sekaligus penerapan PPKM Darurat, berbagai perayaan tradisi Idul Adha terpaksa ditiadakan.


Waktu yang bertepatan dengan datangnya “musim haji” ini, menjadi momen yang pas untuk menumbuhkan rasa kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama. Hari Raya Idul Adha identik dengan menyembelih hewan kurban berupa sapi, kambing, atau domba, dan membagikan dagingnya kepada orang-orang yang kurang mampu.

Tidak hanya identik dengan kurban, hari raya yang diperingati setiap hari ke-10 bulan ke-12 (Zulhijjah) kalender Hijriyah ini juga memiliki tradisi Idul Adha yang menarik dari setiap daerah di Indonesia.

Berikut 5 tradisi Idul Adha di berbagai daerah di Indonesia:

1. Meugang, Aceh

Tradisi Meugang berasal dari kata Makmeugang, merupakan tradisi yang identik dengan makan daging sapi atau kerbau bersama yang diolah dengan beraneka ragam masakan.

Sejarah Meugang sendiri berawal pada masa kerajaan Aceh yang dilakukan dengan cara memotong hewan kurban dan dibagikan secara gratis kepada masyarakat.

Tradisi ini dilakukan sebagai ungkapan syukur atas kemakmuran tanah Aceh dan sampai saat ini tetap dilestarikan oleh seluruh masyarakat Aceh saat menyambut hari-hari besar suci umat Islam, seperti Hari Raya Idul Adha.

2. Apitan, Semarang

Apitan merupakan tradisi yang digelar sebagai bentuk rasa syukur atas rezeki berupa hasil bumi yang diberikan oleh Yang Maha Esa.

Di Semarang, tradisi ini biasa diawali dengan pembacaan doa dilanjutkan dengan arak-arakan hasil tani, ternak, dan nantinya hasil tani yang diarak ini akan diambil secara berebutan oleh masyarakat setempat.

Tradisi ini dipercaya menjadi tradisi wajib para Wali Songo dulu sebagai bentuk ungkapan rasa syukur di perayaan Idul Adha.

Tak hanya gunungan berupa hasil tani atau arak-arakan ternak, siapa pun yang menyaksikan tradisi Apitan ini juga akan disuguhkan dengan hiburan khas kearifan lokal.

3. Gamelan Sekaten, Surakarta

Gamelan Sekaten merupakan salah satu media penyebaran agama Islam yang dilakukan oleh Wali Songo pada zaman dahulu kala.

Hingga kini, Gamelan Sekaten masih dilestarikan sebagai tradisi dalam perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, Idul Fitri, hingga Idul Adha.

Tradisi Gamelan Sekaten biasanya ditandai dengan ansambel musik gamelan yang biasanya ditabuh setelah sholat Idul Adha.

Biasanya, masyarakat yang menyaksikan gendhing-gendhing Jawa dari Keraton tersebut sambil mengunyah kinang (sekapur sirih dan rempah lainnya). Dengan harapan agar diberikan panjang umur dan kesehatan sehingga bisa menyaksikan tradisi sekaten kembali di tahun berikutnya

4. Grebeg Gunungan, Yogyakarta

Tradisi Grebeg Gunungan yang dirayakan oleh masyarakat Yogyakarta ini, sepintas hampir mirip dengan tradisi Apitan dari Semarang. Warga muslim Yogyakarta akan mengarak hasil bumi dari halaman Keraton sampai Masjid Gede Kauman.

Arak-arakan hasil bumi ini berjumlah 3 buah gunungan yang tersusun dari rangkaian sayur-mayur dan buah. Di Yogyakarta, tradisi ini dilaksanakan setiap hari besar agama Islam.

Grebeg Syawal dilaksanakan saat Idul Fitri, sedangkan tradisi Grebeg Gunungan dilaksanakan pada perayaan Idul Adha. Masyarakat setempat percaya, apabila berhasil mengambil hasil bumi yang disusun dalam bentuk gunungan, bisa mendatangkan rezeki.

5. Gamelan Sekaten, Cirebon

Terdapat sebuah tradisi perayaan Idul Adha dari Cirebon yang dipercaya merupakan dakwah dari Sunan Gunung Jati sebagai penyebar agama Islam di tanah Cirebon. Tradisi ini disebut tradisi Gamelan Sekaten yang selalu dibunyikan setiap perayaan hari besar agama Islam yaitu, Idul Fitri dan Idul Adha.

Alunan Gamelan yang berada di sekitar area Keraton Kasepuhan Cirebon, menjadi penanda bahwa umat Muslim di Cirebon merayakan hari kemenangan. Rangkaian Gamelan dibunyikan sesaat setelah sultan Keraton Kasepuhan keluar dari Masjid Agung Sang Cipta Rasa. [Firmansyah]

Lebih baru Lebih lama