TURUNNYA RUPIAH MENIMBULKAN KERESAHAN MAHASISWA STAI AL-FATAH.


Sumber foto:SindoNews.com

Oleh Eka Zuliatun Nurrohmah & Sena Maryam Jamilah | Mahasiswa Semester II | STAI Al-Fatah

Dalam sistem ekonomi Islam, kesejahteraan masyarakat dijaga melalui berbagai instrumen seperti zakat, infak, dan sedekah. Prinsip ini menekankan bahwa kekayaan seharusnya tidak hanya dikuasai oleh orang-orang kaya, melainkan juga harus memberikan manfaat bagi seluruh lapisan masyarakat. Ketika kondisi ekonomi mengalami kesulitan akibat melemahnya nilai rupiah, hal ini memicu keresahan di kalangan masyarakat, terutama di antara mahasiswa STAI Al-Fatah. Beberapa waktu terakhir, penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menjadi isu yang sangat diperhatikan. Penurunan nilai tukar ini tidak hanya sekadar angka yang tampak di laporan ekonomi, tetapi juga bisa dirasakan langsung oleh mahasiswa dalam kehidupan sehari-hari. Saat rupiah melemah, harga barang impor cenderung meningkat, biaya produksi juga naik, dan pada akhirnya harga kebutuhan pokok serta barang lainnya turut melonjak.

Sebagai mahasiswa, situasi ini menunjukkan bahwa stabilitas ekonomi sangat penting bagi kesejahteraan masyarakat. Penurunan nilai rupiah dapat memberi dampak pada berbagai sektor, mulai dari pendidikan, perdagangan, hingga lapangan kerja. Contohnya, harga perangkat seperti laptop, ponsel, atau barang kebutuhan teknologi yang beberapa komponennya diimpor dari luar negeri menjadi lebih tinggi. Hal ini mengakibatkan daya beli menurun dan kegiatan ekonomi bisa melambat.

Menurut pandangan kami, penurunan nilai rupiah jelas menjadi tantangan yang memerlukan perhatian serius. Namun, keadaan ini juga menyadarkan kita bahwa kekuatan ekonomi suatu negara bukan sekadar ditentukan oleh nilai mata uang, tetapi juga oleh kualitas pengelolaan ekonomi yang baik. Jika prinsip-prinsip ekonomi yang dijelaskan dalam Al-Qur’an diterapkan dengan benar, seperti kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan pemerataan kesejahteraan, maka dampak dari berbagai masalah ekonomi dapat diminimalkan.

Di sisi lain, penurunan nilai rupiah dapat menjadi bahan refleksi bagi berbagai pihak untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional. Ketergantungan pada produk dan bahan mentah dari luar negeri menyoroti pentingnya peningkatan produksi dalam negeri agar perekonomian menjadi lebih mandiri. Dengan cara ini, tantangan ekonomi yang ditimbulkan oleh faktor eksternal tidak akan berdampak signifikan terhadap kehidupan masyarakat Indonesia.

Kesimpulannya, penurunan nilai rupiah memang menimbulkan kecemasan di masyarakat, terutama di kalangan mahasiswa Indonesia, karena berdampak pada harga barang dan daya beli. Namun, Al-Qur’an memberikan arahan bahwa solusi ekonomi tidak semata-mata bergantung pada kebijakan keuangan, tetapi juga pada penerapan nilai-nilai keadilan dan kesejahteraan sosial. Dengan menerapkan prinsip ekonomi Islam, diharapkan situasi ekonomi dapat menjadi lebih stabil dan manfaat pembangunan dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat Indonesia.

Untuk menangani dampak yang ditimbulkan oleh melemahnya nilai rupiah, langkah-langkah kolaboratif dari berbagai pihak dibutuhkan. Pemerintah harus terus berupaya menjaga stabilitas ekonomi melalui kebijakan yang bisa meningkatkan kepercayaan masyarakat dan pelaku usaha terhadap perekonomian nasional. Selain itu, dukungan bagi sektor usaha lokal perlu diperkuat agar produk-produk dalam negeri bisa bersaing dan mengurangi ketergantungan pada barang impor. Semakin solid produksi lokal, semakin besar pula kemampuan Indonesia menghadapi tekanan ekonomi dari luar negeri.

Di kalangan masyarakat, kesadaran untuk menggunakan dan mendukung produk lokal juga bisa menjadi langkah sederhana yang memberikan efek positif untuk perekonomian. Penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) perlu mendapatkan perhatian khusus karena sektor ini memiliki peran vital dalam menciptakan lapangan kerja dan menjaga dinamisnya ekonomi di tingkat daerah. Dengan meningkatnya aktivitas ekonomi domestik, ketahanan ekonomi nasional akan menjadi lebih tangguh.

Lebih baru Lebih lama