![]() |
| Ilustrasi |
Oleh Aurallya Finandya Putri | Mahasiswa Semester VI Prodi Komunikasi & Penyiaran Islam STAI Al Fatah
Coba perhatikan momen-momen kecil disekitar kita yang mungkin sering sekali terjadi, seperti makan malam bersama keluarga. Dahulu, ruang meja penuh dengan dentingan suara sendok dan hangatnya percakapan antara sesama anggota keluarga, tapi kini semua berubah.
Saat makanan baru tersaji, baru dimasukkan kedalam piring untuk dimakan, fokus mereka bukan lagi "lauk apa yang hari ini akan dimakan" tetapi berubah menjadi berbagai macam suara dari layar kecil yang digenggamnya (Handphone). Ironis, bukan? Di era di mana kita bisa menghubungi seseorang di belahan dunia lain hanya dalam hitungan detik, kita justru sering merasa kesepian duduk di samping orang-orang terdekat. Inilah paradoks komunikasi digital yang tengah kita hidupi hari ini.
Dari tahun ke tahun saya banyak belajar tentang bagaimana model komunikasi terus bertransformasi dari waktu ke waktu. Dari komunikasi tatap muka, lalu berkembang lewat media massa, hingga kini masuk ke era digital yang serba instan.
Transformasi ini bukan tanpa manfaat. Siapa yang bisa membantah bahwa media sosial telah menyebarluaskan akses informasi? Bahkan kini seorang petani di pelosok Kalimantan bisa belajar teknik pertanian modern dari YouTube.
Seorang aktivis bisa menggalang dukungan publik dalam semalam. UMKM lokal bisa bersaing secara global dari rumahnya sendiri. Namun ada harga yang diam-diam kita bayar dari semua kemudahan itu.
Transformasi model komunikasi digital memang telah memperluas jaringan sosial kita secara luar biasa. Kita bisa memiliki ratusan bahkan ribuan "teman" di berbagai platform. Tapi perlu kita tanyakan pada diri sendiri: berapa banyak dari mereka yang benar-benar kita kenal? Berapa banyak yang akan kita hubungi saat kita sedang rapuh di tengah malam? Kini komunikasi digital mengubah kualitas interaksi interpersonal kita secara fundamental.
Pesan teks menghilangkan nada suara. Emoji menggantikan ekspresi wajah. Reaction menggantikan pelukan. Kita berkomunikasi lebih banyak, tapi dengan kedalaman yang semakin dangkal.
Ada fenomena lain yang menurut saya jauh lebih berbahaya dari sekadar kesepian digital, yaitu apa yang para akademisi komunikasi sebut sebagai echo chamber. Algoritma platform media sosial dirancang untuk menampilkan konten yang kita sukai, yang kita setujui, yang membuat kita nyaman.
Secara perlahan, tanpa kita sadari, kita terkurung dalam ruang gema, yang di mana hanya ada suara-suara yang sepaham dengan apa yang kita dengar.
Lalu akibatnya? Polarisasi semakin tajam. Kita makin sulit mendengar perspektif yang berbeda. Kita kehilangan kemampuan untuk berempati pada mereka yang tidak satu pemikiran dengan kita.
Di era di mana informasi berlimpah, justru paradoks kita menjadi semakin sempit dalam cara pandang. Bahkan kita terbiasa dengan konten yang serba cepat, serba singkat. Hingga otak kita pelan-pelan kehilangan kapasitas untuk duduk diam, berpikir mendalam, dan berdialog secara konkret.
Di balik layar yang kita tatap setiap hari, ada mesin pengumpul data yang bekerja tanpa henti. Setiap like, setiap pencarian, setiap detik waktu yang kita habiskan di suatu konten, semuanya tercatat. Data itu kemudian bisa diperjualbelikan. Privasi, yang dulunya dianggap hak asasi, kini perlahan bergeser menjadi semacam kemewahan.
Ancaman privasi ini bukan sekadar soal data bocor atau akun diretas. Lebih dari itu, ini menyangkut bagaimana informasi tentang kita digunakan untuk mempengaruhi perilaku kita, pilihan kita, bahkan keyakinan kita. Dalam perspektif komunikasi, ini adalah bentuk kuasa yang sangat asimetris: kita sebagai pengguna hampir tidak memiliki kontrol atas narasi yang dibentuk tentang diri kita sendiri.
Satu hal yang sering luput dari diskusi tentang komunikasi digital adalah kesenjangan digital itu sendiri. Tidak semua orang punya akses yang setara terhadap teknologi dan literasi digital. Ketika sebagian orang bisa memanfaatkan komunikasi digital untuk naik kelas secara ekonomi dan sosial, sebagian yang lain justru semakin tertinggal karena tidak punya akses atau kemampuan untuk menggunakannya.
Transformasi komunikasi yang seharusnya menjadi kekuatan pemerata justru berpotensi memperburuk ketidaksetaraan sosial yang sudah ada. Mereka yang sudah berada di posisi menguntungkan akan semakin diuntungkan. Yang sudah terpinggirkan, bisa semakin tersisih.
Bukan mengajak kita untuk kembali ke zaman pra-digital atau sekedar nostalgia hangatnya komunikasi tatap muka. Itu romantisasi yang tidak realistis.
Manfaat dari komunikasi digital terlalu besar untuk diabaikan, mulai dari akselerasi informasi, penguatan demokrasi partisipatif, hingga kemajuan layanan publik. Tapi kita perlu lebih bijak dan lebih kritis dalam menghidupi era ini.
Teknologi seharusnya menjadi alat, bukan sebagai tuan. Koneksi digital seharusnya untuk memperkuat relasi nyata, bukan menggantikannya. Kita perlu membangun kembali kemampuan untuk hadir sepenuhnya, to be fully present, dalam percakapan dengan orang-orang disekitar kita.
Mungkin sesekali, kita perlu meletakkan ponsel, menatap mata teman kita, dan bertanya dengan sungguh-sungguh: "Kamu baik-baik saja?". Karena di akhir hari, tidak ada notifikasi atau jumlah followers yang bisa menggantikan rasa didengar dan dipahami oleh seseorang yang benar-benar peduli.
