Menghirup Estetika di Balik Gelas Kopi: Lebih dari Sekadar Kafein, Ini Adalah Identitas

Sumber foto: Pinterest 

Oleh Khodijah Nurul Husna | Mahasiswa Semester V Prodi komunikasi dan Penyiaran Islam, STAI Al-Fatah

Pada masa lalu, kopi hanya dianggap sebagai minuman hitam pekat yang sering dihubungkan dengan asap rokok di teras rumah orang tua atau penyemangat bagi para pekerja kantoran di pagi hari. Saat ini, kopi telah mengalami transformasi. Dari sudut-sudut sempit hingga pusat perbelanjaan mewah, kedai kopi tumbuh dengan pesat, menjadikan minuman pahit ini sebagai simbol gaya hidup perkotaan yang berwarna-warni.

Kopi tidak lagi hanya sekadar soal cita rasa, melainkan telah menjadi sebuah pengalaman. Perhatikan saja bagaimana sekelompok anak muda dengan sabar menunggu pesanan mereka. Nama-nama minuman yang dipesan sekarang terasa lebih rumit, contohnya iced caramel macchiato oatmilk double shot. Namun, sebelum mencicipi minuman itu, ritual penting yang harus dilakukan adalah mengabadikannya dalam sebuah foto estetik untuk dibagikan di Instagram story.

Fenomena ini bukanlah hal yang remeh. Menurut data dari Asosiasi Kopi Indonesia, konsumsi kopi dalam negeri mengalami kenaikan lebih dari 13% setiap tahun selama lima tahun terakhir. Media sosial telah menjadi penggerak utama bagi generasi milenial dan Gen Z yang mencari tempat nongkrong yang nyaman, suasana yang dapat diabadikan dalam foto, dan tentu saja—koneksi internet yang cepat.


Dari Ladang ke Meja Estetik

Menariknya, tren ini memberikan manfaat besar bagi petani kopi lokal. Kesadaran anak muda mengenai kualitas kopi mulai menjangkau tingkat hulu. Beberapa kafe kini dengan bangga menampilkan biji kopi single origin dari daerah Gayo, Toraja, hingga Bajawa.

“Anak muda sekarang semakin peduli dengan asal kopi mereka. Mereka mulai menanyakan tentang proses, ketinggian tanam, hingga catatan rasa,” ungkap seorang aktivis kopi. Perubahan ini menunjukkan bahwa di balik kehidupan yang mewah, terdapat penghargaan yang berkembang terhadap jerih payah para petani di lereng gunung di seluruh nusantara.


Harga Sebuah Gaya Hidup

Bagi sebagian orang, mengeluarkan Rp40. 000 untuk secangkir kopi bisa dianggap terlalu mahal. Namun, bagi mereka yang menggunakan kafe sebagai “kantor kedua” atau tempat berdiskusi kreatif, jumlah tersebut dianggap sebagai investasi yang wajar. Di tempat tersebut, mereka tidak hanya membeli kafein, tetapi juga suasana, ruang untuk bersosialisasi, identitas diri, dan yang terpenting estetika.

Kopi kini menjadi bahasa universal yang baru. Di balik aroma yang menyeruak, terdapat ide-ide yang dibicarakan dan identitas yang ditampilkan. Kopi bukan lagi sekadar cairan di dalam gelas, melainkan tentang bagaimana seseorang ingin dikenal dan cara mereka terkoneksi dengan dunia.

Lebih baru Lebih lama