Rahasia di Balik Manisnya Kurma: Antara Medis dan Spiritual

Foto by Google


BASHIRAHNEWS.COM, BOGOR— Memasuki bulan suci Ramadhan, buah kurma kembali menjadi primadona di meja makan setiap keluarga Muslim. Bukan sekadar tradisi, mengonsumsi buah asal Timur Tengah ini saat berbuka puasa merupakan anjuran yang memiliki akar sejarah kuat serta manfaat kesehatan yang telah teruji secara ilmiah.

Kurma telah menjadi pilihan utama umat Muslim di seluruh dunia sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Tradisi ini dilestarikan bukan tanpa alasan; kandungan gizi yang tinggi dan sifatnya yang mudah dicerna menjadikannya sebagai makanan pembuka yang paling ideal setelah tubuh seharian berpuasa.

Pemulih Energi Instan

Mengonsumsi kurma tepat setelah azan Magrib berkumandang terbukti mampu mengembalikan energi tubuh secara cepat. Hal ini dikarenakan kandungan gula alami (glukosa dan fruktosa) pada kurma dapat diserap oleh tubuh tanpa memerlukan proses pencernaan yang lama.

Selain itu, kandungan serat di dalamnya sangat baik untuk menjaga kesehatan pencernaan, memastikan transisi yang halus bagi perut saat akan menerima makanan utama yang lebih berat.

Nilai Religius dalam Al-Qur'an

Keistimewaan kurma tidak hanya diakui oleh dunia kesehatan, tetapi juga ditegaskan dalam Al-Qur’an. Salah satu momentum yang mengabadikan manfaat kurma adalah saat kisah Maryam, ketika ia diperintahkan oleh Allah SWT untuk mengonsumsi kurma demi menguatkan fisiknya. Sebagaimana firman Allah dalam Surah Maryam ayat 25:

وَهُزِّيٓ إِلَيْكِ بِجِذْعِ ٱلنَّخْلَةِ تُسَـٰقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا

Artinya: “Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.”

Ayat ini menunjukkan bahwa sejak dahulu, kurma telah menjadi sumber nutrisi utama yang diberikan Tuhan untuk memulihkan kondisi fisik manusia dalam keadaan lemah.

Sederhana dalam Penyajian

Cara mengonsumsi kurma yang paling dianjurkan adalah dengan cara yang sederhana, yakni memakan dalam jumlah ganjil—seperti satu hingga tiga butir—sebelum beralih ke santapan utama. Pola ini membantu sistem metabolisme tubuh beradaptasi secara perlahan setelah beristirahat seharian dari aktivitas makan dan minum.

Kini, meskipun kurma mayoritas berasal dari Timur Tengah, keberadaannya telah tersebar luas di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Mengonsumsi kurma saat berbuka pun bukan lagi sekadar mengikuti gaya hidup, melainkan sebuah perpaduan harmonis antara ketaatan beribadah dan upaya menjaga kesehatan tubuh yang optimal. [ Istiqomah Muhajiroh ]

Lebih baru Lebih lama