Di Antara Air Pancuran dan Lampu Jalan: Tentang Jeda, Luka, dan Bertumbuh

Foto by Salma Azzahra 

Oleh Budi Nur Salekhah | Mahasiswa Semester 3 Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam, STAI Al-Fatah

Malam di Bunderan HI selalu punya cara sendiri untuk bercerita. Lampu jalan berdiri rapi, memantulkan cahaya ke aspal yang tidak pernah benar-benar tidur. Mobil dan motor terus melintas, kadang terburu-buru, kadang hanya ingin menikmati malam. Air pancuran di tengah bundaran berputar pelan, berkilau, dan selalu konsisten dengan ritme sendiri.

Di tepi jalan, dekat Halte Bunderan HI Astra, dua gadis duduk berdampingan. Angin malam menyentuh wajah mereka, membawa sisa lelah dari hari yang panjang. Tidak ada foto, tidak ada tawa keras. Hanya obrolan pelan yang terasa jujur.

“Kadang aku mikir,” kata salah satu, sambil menatap air pancuran, “sebenarnya untuk apa dekat dengan lawan jenis, kalau akhirnya patah hati?” Kalimat itu keluar begitu saja, tanpa dramatisasi. 

Temannya tidak langsung menjawab. Ia mengizinkan suara kendaraan lewat dulu, seolah memberi ruang agar pertanyaan itu benar-benar terdengar.

“Mungkin karena kita sering lupa,” kata temannya, “kalau dekat tanpa tujuan pasti terasa capek. Rasanya ramai, tapi sebenarnya kosong.”

Mereka sama-sama mengerti. Banyak kedekatan sekarang muncul bukan dari kesadaran, tapi dari kesepian. Dari keinginan untuk ditemani, bukan untuk saling menumbuhkan. Dan ketika harapan tidak menemukan arah, yang tersisa hanya luka, kesunyian yang lebih dalam dari sebelumnya.

Bulan Sya’ban menggantung di langit Jakarta malam itu. Bulan persiapan, kata orang. Waktu untuk merapikan niat sebelum Ramadhan datang mengetuk. Di bawah cahaya lampu jalan, dua gadis itu sampai pada kesepakatan sederhana: berhenti sejenak dari kekacauan urusan perasaan.

“Kayaknya cukup dulu sama yang kayak gitu,” ujar yang lain pelan.

“Single era itu bukan buat dirayain terus. Kadang harus dihentikan, biar kita ingat arah.”

Berhenti, bagi mereka, bukan berarti menyerah. Malah sebaliknya. Ini tentang memilih fokus. Lebih banyak ibadah. Lebih jujur menata diri. Lebih serius memperbaiki hal-hal yang selama ini terabaikan.

Mereka ingin bertumbuh, bukan hanya secara emosi, tapi juga secara ilmu. Membaca lebih banyak, belajar lebih dalam, memperluas manfaat. Menjadi pribadi yang dinanti bukan hanya karena perhatian singkat, tapi karena ilmunya, sikapnya, dan cara berpikirnya yang menenangkan.

Air pancuran terus berputar. Kendaraan tetap melintas. Jakarta tidak berhenti hanya karena dua orang sedang merenung. Namun di tepi Bunderan HI malam itu, ada keputusan kecil yang terasa besar: memilih tenang, memilih tumbuh, dan memilih mendekat kepada Tuhan.

Sya’ban mengajarkan mereka satu hal, sebelum meminta dicintai, ada diri yang perlu dibenahi. Sebelum berharap pada manusia, ada hubungan yang harus diperkuat dengan Sang Pencipta.

Lebih baru Lebih lama