Menjemput Pagi di Burangrang: Pendakian, Ibadah, dan Makna Kebersamaan


Foto by Tim Dokumentasi Maltara 

Oleh Budi Nur Salekhah | Mahasiswa Semester 3 Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam, STAI Al-Fatah

Pukul tiga dini hari, ketika sebagian besar kota masih terlelap, kami—empat belas pendaki—memulai perjalanan dari Cileungsi menuju Gunung Burangrang. Langit masih gelap, udara dingin perlahan meresap, dan rasa kantuk menjadi teman awal perjalanan. Namun justru dari waktu yang sunyi itulah perjalanan ini dimulai, bukan sekadar sebagai aktivitas pendakian, melainkan sebagai pengalaman spiritual dan kebersamaan.

Perjalanan darat menggunakan mobil membawa kami tiba di pasar dekat Stasiun Padalarang sekitar pukul enam pagi. Aktivitas warga mulai terlihat, memberi kontras dengan tubuh kami yang masih beradaptasi setelah perjalanan malam. Sekitar pukul tujuh, kami melanjutkan perjalanan menuju basecamp dan tiba sekitar pukul delapan pagi. Setelah melakukan persiapan, pendakian resmi dimulai pada pukul 08.20 WIB.

Trek Gunung Burangrang dikenal cukup menantang. Jalurnya panjang dan menguras tenaga, membuat setiap langkah terasa “mahal” untuk dibayar dengan stamina dan kesabaran. Secara normal, waktu tempuh dari basecamp menuju puncak berkisar tiga jam. Namun perjalanan kali ini bukan tentang kecepatan, melainkan tentang proses. Dingin yang menusuk, rasa lelah, dan kantuk yang belum sepenuhnya hilang menjadi ujian tersendiri.

Sekitar pukul 12.00 WIB, kami akhirnya tiba di puncak. Segala lelah seolah terbayar lunas. Dari ketinggian, pemandangan kota terlihat kecil dengan hamparan hijau pepohonan yang tersisa, atap-atap rumah warga lokal yang tertata teduh, serta keunikan lanskap yang hanya bisa dinikmati dari atas. Keindahan ini terasa istimewa, karena sedikit saja terlambat, kabut tebal akan menutup seluruh pandangan.

Di puncak Gunung Burangrang, perjalanan ini mencapai makna yang lebih dalam. Setelah berwudhu dengan bertayamum, kami mengumandangkan azan dan mengajak para pendaki lain untuk bersama-sama menunaikan ibadah sholat Jum’at. Salah satu rekan kami bertindak sebagai muadzin, sementara khutbah Jum’at disampaikan oleh rekan lain yang ditunjuk sebagai imam. Setelah iqomah dikumandangkan, sholat Jum’at pun dilaksanakan, dilanjutkan dengan jama’ sholat Ashar.

Usai ibadah, kami saling bersalaman dengan sesama mahram, termasuk dengan pendaki lain yang turut bergabung. Momentum ini menunjukkan bahwa pendakian bukan hanya tentang menyatu dengan alam, tetapi juga tentang mendekatkan diri kepada Allah SWT serta membangun interaksi sosial yang baik. Ajakan tersebut disambut positif oleh hampir seluruh pendaki yang berada di puncak saat itu.

Setelah merapikan area sholat, kami bersiap memasak makan siang. Tak lama kemudian, hujan deras turun mengguyur puncak. Dua tenda yang sebelumnya telah didirikan oleh rekan kami yang lebih dahulu tiba di puncak segera diperbaiki dan diperkuat. Meski cuaca tidak bersahabat dan sebagian besar pendaki lain memilih turun, kami tetap bertahan, memasak hingga makanan siap dan menyantapnya bersama dalam suasana sederhana namun penuh kehangatan.

Sekitar pukul 14.00 WIB, kami mulai bersiap untuk turun gunung. Sebelum itu, kami menyempatkan sesi foto singkat di lokasi yang berjarak sekitar dua menit dari area tenda. Beberapa jepretan diambil dengan cepat, mengingat potensi hujan yang bisa kembali turun sewaktu-waktu.

Perjalanan turun menyimpan tantangan tersendiri. Di antara puncak dan Pos 4, kami bertemu dengan tim pendaki lain yang mengalami hipotermia. Situasi ini menjadi pengalaman berharga sekaligus pengingat pentingnya kewaspadaan dan solidaritas di alam bebas. Akibat berbagai kondisi tersebut, waktu turun yang normalnya sekitar tiga jam berubah menjadi kurang lebih delapan jam.

Secara keseluruhan, total waktu pendakian mencapai hampir 14 jam. Lelah, dingin, dan basah menjadi bagian dari perjalanan, namun semua itu terbayar dengan pengalaman yang kaya akan nilai kebersamaan, ketahanan diri, dan spiritualitas.

Perjalanan ini belum berakhir. Masih ada kisah-kisah penting di balik hujan, jalur turun yang panjang, dan solidaritas di gunung yang akan kami ceritakan pada bagian selanjutnya dengan judul berbeda.

Lebih baru Lebih lama