Stop Menormalkan Rasa Tidak Layak Tampil: Suara Kita Berharga

 

Pembacaan puisi oleh Mahasiswi STAI Al-FATAH, Sumber foto: media dokumentasi aksi rutin Jum'at 


Oleh Budi Nur Salekhah | Mahasiswa Semester 3 Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam, STAI Al-Fatah

Sebagai seorang mahasiswa, saya belajar bahwa kampus bukan hanya tempat mengumpulkan nilai, tetapi ruang untuk menemukan diri. Namun ada satu hal yang sering saya lihat. Dan jujur, dulu saya juga merasakannya: normalisasi untuk tidak tampil hanya karena merasa ada orang lain yang lebih “wah”, lebih pintar, atau lebih fasih berbicara.

Padahal, semakin jauh saya melangkah, semakin saya sadar: perasaan tidak layak itu harus dihentikan.


1. Kita Tidak Tahu, Terkadang Keadaan Memaksa Kita untuk Maju

Saya bukan tipe orang yang suka bicara di depan umum. Kalau boleh memilih, saya lebih nyaman duduk di barisan tengah, mencatat, mendengarkan, selesai. Tapi realitas sering berkata lain. Saat dosen menunjuk, saat kelompok butuh pemimpin, saat acara butuh pembicara, saya harus maju meski dalam hati berontak.

Dari situ saya belajar bahwa kemampuan tampil itu bukan bakat, tetapi respons terhadap situasi. Dunia tidak menunggu kita siap; dunia memaksa kita belajar.


2. Menghentikan Normalisasi “Aku Tidak Pantut Tampil”

Kita terlalu sering meremehkan diri sendiri.

Kalimat seperti:

“Ah, dia aja yang bicara, dia lebih pinter…”

“Aku nggak sebagus mereka…”

“Takut salah…”

Hal-hal seperti ini seolah menjadi normal. Padahal itu bentuk pembatasan diri yang tidak sehat. Jika terus dibiarkan, kita akan kehilangan kesempatan untuk berkembang.

Faktanya:

Orang yang kita kira “lebih wah” pun pernah takut. Mereka hanya berani mencoba lebih dulu.


3. Setiap Orang Punya Ruang untuk Didengar

Saya sering berpikir, kenapa suara saya harus didengar? Tapi ketika akhirnya saya berbicara, saya sadari: yang dibutuhkan bukan kesempurnaan, tetapi perspektif.

Mahasiswa kritis bukan berarti selalu benar. Mahasiswa kritis adalah mereka yang berani membicarakan sesuatu yang banyak orang pikirkan tapi tidak semua orang mau mengatakannya.

Saat saya berbagi pandangan, ada teman yang bilang, “Aku juga berpikir hal yang sama, tapi nggak berani ngomong.” Saat itu saya paham: suara kita bisa menjadi pintu bagi suara orang lain.


4. Waktu Kita Sangat Berharga "Jangan Disia-siakan"

Satu hal yang semakin terasa ketika masa kuliah berjalan: waktu tidak akan menunggu.

Setiap kesempatan tampil adalah investasi ke diri sendiri:

1. Melatih kepercayaan diri

2. Membangun karakter

3. Menambah pengalaman

4. Memperluas jaringan

5. Memperkuat identitas

Sayang sekali jika kita menyia-nyiakannya hanya karena rasa minder yang belum tentu benar.


5. Mungkin Suatu Saat, Justru Kita yang Akan Selalu Diminta Tampil

Saya dulu tidak pernah membayangkan diri menjadi mc, qori, pemateri, atau penanggung jawab kegiatan. Tapi hari ini, saya sering didorong ke depan karena orang lain percaya saya bisa.

Ironisnya, saya baru sadar:

kadang orang lain lebih percaya pada kemampuan kita daripada diri kita sendiri.

Karena itu, jangan pernah kecilkan potensi diri. Hari ini mungkin kita ragu, tapi esok bisa saja kita adalah orang yang diandalkan untuk tampil, memimpin, berbicara, atau menjadi representasi sebuah kelompok.


Penutup: Berhentilah Menyembunyikan Diri

Berhenti menormalisasi kebiasaan tidak tampil hanya karena merasa bukan yang terbaik. Tidak ada yang meminta kita sempurna; yang dunia butuhkan adalah keberanian kita untuk hadir.


Suaramu berharga.

Waktumu berharga.

Kehadiranmu berharga.


Jika hari ini kamu takut, tak apa. Tapi jangan mundur.

Karena bisa jadi, besok dunia membutuhkanmu untuk berdiri di depan.

Lebih baru Lebih lama