Papeda: Saat Makanan Menjadi Ritual dan Rasa Menjadi Cerita, Timur Nusantara Punya Cara Sendiri Menyapa Dunia

 Sumber foto: https://maluku.inews.id/berita/ciri-khas-dan-keunikan-dari-makanan-papeda-tekstur-seperti-lem

Oleh Istiqomah Muhajiroh | Mahasiswa Semester 1 Prodi Ekonomi Syariah, STAI Al-Fatah 

Menjadi salah satu kuliner kaki lima favorit, siapa sangka papeda yang berbahan dasar sagu ini ternyata merupakan warisan kuliner tanah Papua? Melansir dari laman Indonesia.go.id, papeda (dalam Bahasa Inanwatan atau Bahasa Papua yang disebut dengan dao) memiliki sejarah panjang, karena telah dikenal secara luas dalam tradisi masyarakat adat Sentani dan Arab di Danau Sentani dan Arso, serta Manokwari.

Papeda adalah makanan khas masyarakat Papua, Maluku, dan beberapa daerah di Sulawesi. Berbentuk pasta atau gel dan berbahan dasar sagu yang rendah gula dan kolesterol, papeda juga kaya akan serat dan bernutrisi tinggi.

Mengutip Sagu Sebagai Makanan Rakyat dan Sumber Informasi Budaya Masyarakat Inanwatan: Kajian Folklor Non-Lisan yang ditulis oleh Quin D.Tulalessy, papeda dibuat dengan cara memanaskan aci sagu hingga terbentuk menjadi olahan sagu bening. Lalu, aci sagu diaduk dengan menambahkan sedikit air dingin hingga kental tapi masih tetap dapat diaduk dengan mudah. Kemudian, hasil adukan tersebut disiram dengan air mendidih sambil terus diaduk hingga warnanya yang semula putih menjadi bening. Pergerakan saat mengaduk aci sagu ini juga harus searah hingga warna olahan sagu merata.

Ciri-ciri papeda yang siap untuk disantap adalah jika tampilannya terlihat transparan serta berbentuk batali (seperti tali dan tidak mudah putus). Jika papeda diangkat dengan cara khusus, maka bagian dari olahan sagunya juga tidak mudah putus. Bentuk olahan sagu papeda yang mudah putus biasanya disebabkan karena pengolahan sagu yang terlalu bersih, yang menyebabkan bagian-bagian sagu yang halus juga ikut terbawa air.

Membuat papeda terdengar tak sulit, namun dalam membuat papeda, dibutuhkan takaran dan suhu air yang tepat. Penggunaan air yang berlebihan dapat memicu tekstur papeda menjadi cair. Sebaliknya, jika air terlalu sedikit, maka papeda yang dihasilkan juga akan menjadi lebih keras. Suhu air yang digunakan juga tidak boleh terlalu panas atau terlalu dingin, sehingga takaran dan suhu air harus benar-benar pas untuk mendapatkan papeda yang sempurna. Hal ini juga yang menjadi alasan mengapa tidak semua orang Papua bisa membuat papeda.

Kuliner khas Papua ini biasa disajikan dengan daging, sayur ganemo (sayur dari daun melinjo muda yang ditumis dengan cabai merah dan bunga pepaya muda), kelapa, ikan, dan yang lainnya. Papeda dengan ikan kuah kuning biasa disajikan saat perayaan penting. Seperti pada saat Upacara Watani Kame di Raja Ampat, yakni upacara untuk menandai berakhirnya siklus kematian seseorang. Sedangkan di Inanwatan, Papua, papeda disajikan pada upacara kelahiran anak pertama.

Rasa bubur sagu atau papeda yang tawar, dipadu dengan ikan kuah kuning segar, tentu membuat kudapan yang satu ini begitu lezat. Sehingga tidak mengherankan, papeda menjadi kuliner kaki lima yang viral di kota-kota besar. Saat menyantapnya, pastikan papeda dan ikan kuah kuning masih hangat, karena tekstur papeda akan menjadi lebih keras saat sudah dingin.

Lebih baru Lebih lama