Mencoba Ikhlas Setelah Dikhianati

Celahsumbar.com

Oleh Anwar Halim Hasibuan | Mahasiswa STAI Al-Fatah

Judul: Air Mata di Ujung Sajadah

Sutradara: Key Mangunsong

Penulis Skenario: Rino Sarjono

Produksi: Unlimited Production

Tahun Rilis: 2023

Genre: Drama Religi – Keluarga

Durasi: ± 1 jam 49 menit

Film ini disutradarai oleh Key Mangunsong dengan skenario karya Titien Wattimena, dirilis pada 7 September 2023 oleh Beehave Pictures. Pemain utama meliputi Titi Kamal sebagai Aqilla, Fedi Nuril sebagai Arif, Citra Kirana sebagai Yumna, Tutie Kirana sebagai Halimah, serta Faqih Alaydrus sebagai Baskara. 

Durasi film sekitar 121 menit, genre drama keluarga dengan elemen spiritual, dan tayang di bioskop seluruh Indonesia. Film ini diadaptasi dari kisah nyata yang menekankan nilai keikhlasan, meraih rating 8.5/10 di IMDb dari ribuan penonton.

Aqilla (Titi Kamal), seorang ibu yang tinggal di London, dibohongi ibunya Halimah (Tutie Kirana) bahwa bayinya dari pernikahan dengan Arfan telah meninggal pasca-kelahiran. Halimah diam-diam menyerahkan bayi itu kepada pasangan Arif (Fedi Nuril) dan Yumna (Citra Kirana) yang mandul, dinamai Baskara yang berarti cahaya.

Tujuh tahun kemudian, Halimah sakit dan mengaku pada Aqilla saat pulang ke Indonesia bahwa anaknya masih hidup di Solo. Aqilla berjuang merebut hak asuh Baskara melalui pengadilan, menghadapi konflik emosional antara dua ibu pengasuh dan ikatan darah.

Secara tematik, film mengeksplorasi transformasi cinta posesif menjadi altruis melalui pengorbanan, seperti phoenix yang bangkit dari abu, dengan doa di sajadah sebagai simbol kekuatan spiritual. Alur maju dengan kilas balik memperlihatkan pergolakan batin Aqilla, Arif, dan Yumna, didukung sudut kamera close-up untuk ekspresi emosional.

Unsur intrinsik seperti mise-en-scène di masjid dan rumah sakit menciptakan atmosfer duka, sementara dialog padat makna serta sinematografi slow-motion menguatkan tear-jerker. Konflik internal mendominasi, menggambarkan dilema moral keluarga tanpa antagonis hitam-putih.

Akting kuat dari Titi Kamal dan Citra Kirana memancarkan chemistry autentik, membuat penonton ikut menangis di adegan pengadilan. Skenario rapi menghindari klise dengan bumbu spiritual yang relevan budaya Indonesia, plus pacing emosional yang memikat.

Kekurangan: Plot familier soal perebutan anak terasa prediktabel bagi penonton drama serupa, dengan beberapa subplot seperti peran Halimah kurang dieksplorasi mendalam. Durasi panjang kadang melambat di tengah, meski tidak merusak keseluruhan dampak.

Sebagai penutup, artikel Air Mata di Ujung Sajadah yang diangkat dari skripsi Fauziyah Azzahra, mahasiswa STAI Al-Fatah, menghadirkan refleksi mendalam tentang perjalanan batin manusia dalam menghadapi ujian kehidupan. 

Air mata yang jatuh di atas sajadah bukan sekadar simbol kesedihan, melainkan wujud ketundukan, keikhlasan, dan harapan seorang hamba kepada Allah Swt. Melalui kajian ini, pembaca diajak memahami bahwa doa dan kesabaran memiliki peran penting dalam membentuk keteguhan iman serta kekuatan spiritual.

Lebih dari sekadar kajian akademik, tulisan ini memberikan pesan moral dan spiritual yang relevan dengan realitas kehidupan sehari-hari. Setiap cobaan yang dihadapi manusia sejatinya menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, selama disikapi dengan keimanan dan keikhlasan. 

Dengan demikian, artikel ini diharapkan mampu memberikan inspirasi, ketenangan batin, serta motivasi bagi pembaca untuk menjadikan sajadah sebagai tempat bersandar dalam setiap suka dan duka kehidupan.

Lebih baru Lebih lama