Armada Global Sumud Flotilla Desak Mesir Buka Gerbang Rafah

Armada Global Sumud Flotilla (Avapress) 

BASHIRAHNEWS.COM, BOGOR – Di tengah bayang-bayang krisis musim dingin yang mematikan, koalisi kemanusiaan internasional Global Sumud Flotilla secara resmi melayangkan permintaan kepada pemerintah Mesir untuk membuka akses perlintasan Rafah, dikutip Mi’raj News Agency, Rabu (07/01). 

Langkah ini diambil sebagai ikhtiar darurat untuk mengirimkan konvoi bantuan darat guna menembus blokade yang masih mencekik warga Palestina di bagian selatan Jalur Gaza.

Dikutip dari Quds Press pada Selasa (6/1), armada tersebut menegaskan bahwa Gaza saat ini tengah menghadapi krisis kemanusiaan "buatan manusia". Meski kesepakatan gencatan senjata telah berlaku sejak Oktober 2025, realita di lapangan menunjukkan pasokan bantuan masih jauh dari kata cukup. Pembatasan ketat yang terus berlanjut membuat warga sipil terjebak dalam kelaparan dan kedinginan tanpa perlengkapan medis yang memadai.

Misi Musim Semi 2026: Skala Terbesar dalam Sejarah

Menyadari lambatnya pemulihan pasca-genosida dua tahun terakhir, Global Sumud Flotilla kini mempersiapkan misi pemecah blokade yang direncanakan meluncur pada musim semi 2026, dikutip Mi'raj news pada Rabu, (07/01). 

Misi ini tidak main-main; melibatkan lebih dari 100 kapal dengan dukungan 3.000 peserta dari 100 negara lebih. Angka ini meningkat dua kali lipat dibanding misi sebelumnya, mencerminkan besarnya solidaritas dunia terhadap kehancuran di Gaza.

Huseyin Durmaz, koordinator misi untuk Turkiye, mengungkapkan kekecewaannya terhadap efektivitas bantuan saat ini. 

"Meskipun ada janji ratusan truk setiap hari di bawah kerangka gencatan senjata, faktanya hanya 40 hingga 50 truk yang masuk, dan banyak di antaranya adalah truk komersial yang barangnya tak mampu dibeli oleh penduduk yang sudah kehilangan segalanya," jelas Durmaz kepada Anadolu Agency.

Tantangan Keamanan dan Memori Pahit

Upaya kemanusiaan ini dibayangi oleh catatan kekerasan dari pihak pendudukan. Pada Oktober lalu, angkatan laut Israel dilaporkan menyita 40 kapal bantuan dan menahan 450 aktivis yang mengalami penyiksaan di dalam tahanan. Tekanan internasional kini tertuju pada Mesir untuk mengambil peran diplomasi yang lebih tegas dengan membuka kembali perlintasan Rafah yang ditutup sejak Mei 2024.

Gencatan senjata tahun 2025 memang telah menghentikan dentuman bom yang menewaskan lebih dari 70.000 warga Palestina, namun penderitaan belum berakhir. Tanpa akses bantuan yang masif dan cepat, reruntuhan Gaza akan tetap menjadi saksi bisu kelaparan massal. 

Misi Global Sumud Flotilla 2026 hadir sebagai ujian bagi kemanusiaan dunia: apakah bantuan akan sampai tepat waktu, ataukah blokade akan tetap menjadi tembok yang tak tertembus. 


Lebih baru Lebih lama