Hari Penanaman Pohon Indonesia: Menanam Harapan di Tengah Luka Alam Nusantara

 

Sumber foto https://www.kemenkopmk.go.id

Oleh Budi Nur Salekhah | Mahasiswa Semester 3 Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam, STAI Al-Fatah dan Istiqomah Muhajiroh

Setiap tanggal 28 November, Indonesia memperingati Hari Penanaman Pohon Indonesia. Peringatan ini bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi momentum penting untuk merenungkan kondisi lingkungan kita yang kian tertekan. Dari banjir di Sumatra, kabut asap, hingga kerusakan ekologis akibat eksploitasi tambang, bumi Indonesia sedang memberi sinyal bahwa ia tidak sedang baik-baik saja.

Karena itu, menanam pohon bukan lagi hanya simbol, tetapi tindakan nyata untuk memulihkan luka alam yang kita buat sendiri.


Fenomena Alam di Sumatra: Alarm untuk Indonesia

Beberapa waktu terakhir, Pulau Sumatra kembali menjadi sorotan karena berbagai kejadian alam yang menunjukkan memburuknya kondisi ekologis:

1. Banjir dan Longsor di Beberapa Wilayah

Daerah seperti Sumatra Barat, Aceh, dan Sumatra Selatan kerap dilanda banjir besar dan longsor yang memutus akses jalan, merusak rumah, serta menelan korban jiwa. Penyebab utamanya: menurunnya daya serap tanah akibat hilangnya hutan penyangga.

2. Kebakaran Hutan dan Kabut Asap

Sebagian wilayah Sumatra kembali mengalami titik panas dan kabut asap, meski tidak sebesar tahun-tahun kritis sebelumnya. Kebakaran ini mengganggu transportasi, kesehatan masyarakat, dan merusak lahan gambut yang butuh ratusan tahun untuk pulih.

3. Krisis Lahan Gambut

Sumatra memiliki kawasan gambut terbesar di dunia. Namun, pembukaan hutan untuk perkebunan dan industri membuat gambut mengering dan mudah terbakar. Kondisi ini mempercepat perubahan iklim secara signifikan.

Fenomena-fenomena ini adalah kenyataan yang harus dihadapi. Alam berbicara, dan tugas kitalah untuk mendengarnya.


Proyek pertambangan besar di wilayah Papua dan Kerusakan Lingkungan: Contoh "Fenomena Alam Buatan Manusia"

Selain fenomena alami, Indonesia juga menghadapi "bencana buatan manusia" yang dipicu oleh aktivitas industri besar-besaran.

Salah satu contoh yang sering dibahas publik adalah proyek pertambangan besar di wilayah Papua. Beberapa isu lingkungan yang sering dikaitkan dengannya antara lain:

1. Produksi Limbah Tailing dalam Jumlah Masif

Proyek tambang ini menghasilkan jutaan ton tailing per tahun. Limbah ini mengubah struktur sungai, merusak habitat satwa, dan menyebabkan sedimentasi yang ekstrem.

2. Hilangnya Tutupan Hutan

Pembukaan lahan tambang menyebabkan deforestasi besar-besaran serta hilangnya biodiversitas unik Papua.

3. Perubahan Lanskap Alam

Gunung menjadi kawah, sungai berubah jalur, dan hutan berubah padang tandus. Ini merupakan contoh bagaimana alam dapat “rusak karena tangan manusia”, bukan karena fenomena geologis.

Meskipun industri tambang memberikan pemasukan negara, dampak lingkungan sering kali meninggalkan jejak panjang yang sulit dipulihkan.


Kejadian Alam Buatan Manusia: Ketika Aktivitas Kita Memantik Bencana

Selain kasus besar seperti proyek pertambangan, ada banyak kejadian yang sebenarnya bukan bencana “alam”, tetapi bencana yang dipicu aktivitas manusia, antara lain:

Penebangan hutan secara liar yang menyebabkan banjir bandang.

Perkebunan monokultur yang mengubah struktur tanah dan menghilangkan keanekaragaman hayati.

Pertambangan ilegal yang menyebabkan tanah amblas dan air sungai tercemar.

Pembangunan yang tidak memperhatikan AMDAL, sehingga memperbesar risiko longsor.

Pembakaran hutan untuk membuka lahan yang menciptakan ribuan titik api.

Semua ini adalah peringatan bahwa manusia memegang peran besar dalam rusaknya lingkungan.


Mengapa Menanam Pohon Jadi Sangat Penting?

Dalam kondisi lingkungan yang genting, penanaman pohon memiliki dampak nyata:

1. Memulihkan Daya Serap Tanah

Akar pohon memperkuat tanah dan mengurangi risiko longsor.

2. Menyerap Karbon dan Menekan Pemanasan Global

Pohon adalah mesin alami penyerap CO₂. Satu pohon bisa menyerap 22 kg karbon per tahun.

3. Menahan Banjir dan Memperbaiki Daerah Aliran Sungai

Tahukah Anda? Banyak sungai di Sumatra dan Papua sudah berubah warna karena sedimentasi dari kerusakan hutan.

4. Menghidupkan Kembali Ekosistem yang Rusak

Pohon menjadi rumah bagi satwa dan serangga, menjaga keseimbangan ekologi.

5. Mengurangi Dampak Bencana Buatan Manusia

Jika hutan kuat, dampak aktivitas industri bisa ditekan dan keberlanjutan bisa dijaga.


Apa yang Bisa Kita Lakukan?

1. Menanam Pohon Secara Konsisten, Bukan Seremonial

Satu pohon saja, jika dirawat, bisa mengubah banyak hal.

2. Mengikuti Program Rehabilitasi Hutan

Komunitas lokal dan pemerintah banyak mengadakan kegiatan menanam pohon di area kritis.

3. Menjaga Pohon yang Sudah Ada

Tidak menebang sembarangan adalah langkah sederhana tapi sepenting menanam.

4. Mengurangi Jejak Kerusakan

Kurangi sampah, hemat energi, dan bijak dalam konsumsi produk turunan kayu dan kelapa sawit.

5. Mengedukasi Generasi Muda

Kesadaran lingkungan harus ditanam sama kuatnya seperti kita menanam pohon.


Kesimpulan: Menanam Pohon Adalah Menanam Masa Depan

Hari Penanaman Pohon Indonesia mengingatkan kita bahwa bumi sedang menanggung beban berat: banjir di Sumatra, kebakaran hutan, rusaknya gambut, hingga kerusakan ekologis akibat industri raksasa seperti proyek pertambangan besar di wilayah Papua. Namun harapan selalu ada selama masih ada orang yang mau menanam, merawat, dan menjaga pohon.

Pohon bukan sekadar makhluk hijau yang tumbuh diam. Ia adalah penjaga udara, pelindung tanah, rumah bagi makhluk hidup, dan simbol masa depan yang lebih sehat.

Ketika kita menanam pohon, sebenarnya kita sedang menanam kehidupan.

Lebih baru Lebih lama