BASHIRAH MEDIA

Memperingati G30SPKI

Bullying Berkedok Candaan

Foto penulis

Oleh Falah Khumaeroh Zahroh | Mahasiswi STAI Al Fatah Cileungsi

Tidak ada satupun yang ingin menjadi korban bullying ataupun pelaku bullying. Tapi, tanpa disadari kita pernah mengalami hal tersebut baik membully ataupun terbully.

Apasih bullying itu?

Perundungan atau yang lebih sering dikenal dengan istilah bullying merupakan segala bentuk penindasan atau kekerasan yang dilakukan dengan sengaja oleh satu orang atau sekelompok orang yang lebih kuat atau berkuasa terhadap orang lain, dengan tujuan menyakiti dan dilakukan secara terus menerus. 

Fenomena bullying sering kali kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekitar maupun dunia maya. Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku bullying sendiri yaitu kepribadian, keluarga, pengalaman buruk seseorang, dan lingkungan sekitar.

Bullying dan Bercanda, Bedakan!

Bullying biasanya terjadi dalam bentuk tersebunyi, alias tanpa disadari. Biasanya sang pelaku dan korban merasa itu adalah bercanda, namun sebenarnya itu sudah melewati bentuk bercanda. Masalahnya, di mana, sih, batas antara bercanda dan bullying?

Sayangnya, tidak ada batas baku antara bercanda dan bullying. Alasannya simpel: Tiap individu dan budaya punya standar yang berbeda. Bercanda yang tidak menyenangkan pun belum tentu bullying; bisa saja gaya bercandanya yang nggak nyambung atau garing.

Perilaku bullying kerap kali disepelehkan pelakunya dengan dalih "bercanda" atau menganggap hal tersebut sebagai candaan untuk mencari jalan keluar dengan mudah dari pengintrogasian . Bullying tidak hanya sebatas kekerasan fisik saja tetapi juga bisa dilakukan secara verbal, seperti menghina, mencaci maki, dan mengejek. 

Terkadang perkataan yang kita anggap remeh dapat menyinggung perasaan orang lain dan berdampak pada kesehatan mental orang tersebut, bahkan tak jarang korban bullying memilih untuk mengakhiri hidupnya, semengerikan itu dampak bullying. Apabila sudah sampai tahap menyebabkan gangguan psikologis bahkan bunuh diri, masih bisakah hal tersebut kita anggap candaan?

Dari survei yang dilakukan PESONA terhadap 100 orang dari berbagai profesi pada bulan Agustus 2016, bullying itu berbeda dari bercanda karena bullying:

Pertama, memberi rasa tidak nyaman kepada orang yang jadi objek bercanda. Bullying memberikan rasa tidak nyaman kepada korbanya. Berbeda dari tersinggung, ketidaknyamanan ini terasa menganggu.

Kedua, merendahkan dan menghina. Bercanda dengan dua hal tersebut sama sekali tak bisa ditoleransi. Nyatanya dua hal tersebut sering terjadi dalam kedok “bercanda”

Ketiga, memojokkan objek bercanda sebagai tujuan atau topik utamanya, Pelaku bullying seringkali memojokkan korbanya dan menjadikannya sasaran empuk dalam melancarkan aksinya yang berkedok ‘bercanda’.

Keempat, memuaskan satu pihak saja. Namanya bercanda, harusnya kita sama-sama tertawa senang. Tapi jika hanya memuaskan satu pihak, sementara pihak lain jadi bulan-bulanan, itu bisa dikategorikan sebagai bullying.

Kelima, dilakukan berulang kali. Menurut Adiyat Yori, aktivis anti-bullying dari Sudahdong.com, perbedaan antara bercanda dan bullying itu adalah bulllying dilakukan berulang kali kepada objek yang sama.

Antara bullying dengan candaan tentunya memiliki batasan yang sangat jelas. Apabila yang dimaksud bercanda sesama teman, maka semua pihak seharusnya sama-sama merasa senang dan menikmati, tanpa ada yang  merasa tersakiti. Jika yang disebut candaan tersebut terdapat pihak-pihak yang merasa  dirugikan baik secara emosianal ataupun fisik , maka itu yang harus dipertanyakan. Apakah sudah benar perilaku kita terhadap orang tersebut?

Kok Gitu Doang Baperan?

Pada dasarnya kita tidak bisa mengontrol bagaimana perasaan dan pemikiran orang terhadap apa yang kita lakukan. Bukan karena candaan kita yang dianggap serius oleh seseorang, lantas orang tersebut dikatakan baperan. Manusia mempunyai kesehatan mental berbeda-beda, masalah yang berbeda-beda dan candaan memiliki batas yang  tidak bisa diklaim semena-mena. 

Seorang psikolog dari klinik Personal Growth, Veronica Adesla, mengatakan bahwa perilaku yang menyakiti, melukai baik fisik dengan pukulan, tendangan, tamparan, maupun perasaan emosional dengan menghina, mengejek, mengeluarkan kata-kata kotor itu bukan bercanda, itu bullying.

Bullying adalah permasalahan yang tidak ada henti-hentinya menjadi topik yang ramai dibicarakan, terlebih kasus tersebut mayoritas di temukan pada usia anak-anak dan remaja. Organisation of Economic Co-operation and Development (OECD) dalam riset Programme for International Students Assessment (PISA) pada tahun 2018 mengungkapkan, sebanyak 41,1 persen murid di Indonesia mengaku pernah mengalami perundungan. 

Hal tersebut tentunya  menjadi catatan bagi para orang tua, bahwa penanaman pendidikan karakter sejak dini sangat lah penting.  Dengan begitu seorang anak dapat membedakan mana hal-hal yang pantas dijadikan bahan candaan dan mana yang bukan. 

Mengenai kasus-kasus bullying yang terjadi, hendaklah memberikan sanksi yang tegas terhadap pelakunya untuk memberi efek jera, dan juga menjadi pelajaran bagi yang lain agar tidak berperilaku semena-mena terhadap orang lain. []


BACA JUGA 

Hati Yang Tertutup

Pentingnya Sex Education Untuk Anak

Ujian

Lebih baru Lebih lama