BASHIRAH MEDIA

Kampung Al Qur'an di Belantara Sawit

       Bupati Sarolangun, H. Cek Endra saat peletakan batu pertama pembanguna Pondok Pesantren Hafidz Al-Fatah


BASHIRAHNEWS.COM - Luasnya 100 hektar. 20 hektarnya diisi 500 rumah yang dihuni 500 keluarga. Sisanya, 80 hektar adalah lahan perkebunan, pertanian dan peternakan. Apa istimewanya ?


Semua penghuninya penghafal Al Qur’an. Semuanya petani dan peternak. Mereka makan dari hasil pertanian dan peternakan itu. Tapi kerja utama mereka bukan itu. Kerja utama mereka menghafal Al Qur’an. Tani & ternak cuma ‘menegakkan tulang punggung’.


Sebenarnya bukan sekedar. Sebab mereka juga punya penghasilan dari berdagang hasil tani & ternak. Perbulan minimal mereka bisa meraup 10 juta dari itu.


Nama kampung ini Daarul Mushaf. Lokasinya, rencananya, di tengah belantara sawit di Desa Teluk Kecimbung, Kecamatan Bathin, Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi.


Itu semua adalah mimpi Buya Sholih Hafidz. Pengasuh Ponpes Hafidz Al Fatah Sarolangun Jambi.


Meski baru mimpi, tapi kaki telah melangkah. Lahannya telah siap 90 %. Tanaman utamanya, nangka sudah ditanam. Selain nangka, nanti akan ditanami sayuran seperti kacang panjang, timun, pare dan lain-lain. Tentu ada juga padi & jagung untuk bahan makanan pokok.


Peternakan utamanya kambing sudah dirintis sejak pertengahan Agustus. Jumlahnya 20 induk siap kawin. Jika tak ada masalah, dalam setahun jumlahnya diperkirakan mencapai minimal 100 ekor.


Mengapa nangka dan kambing ? Katanya, daunnya bagus untuk pakan kambing.


Soal ketahanan pangan ini, Buya banyak makan garam. Dua kali dia meraih penghargaan ketahanan pangan level nasional. Keduanya dia terima langsung dari presiden. Pertama Presiden Megawati dan kedua Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.


Calong penghuninya adalah para alumni Ponpes Hafidz Al Fatah. Mereka yang lulus, tak perlu bingung lanjut kuliah di mana, tinggal di mana. Sebab di kampung qur’an ini juga akan dibangun Sekolah Tinggi Ilmu Al Qur’an dan Sains. Pondasinya sudah diresmikan langsung bupati Sarolangun tahun lalu.


“Usai lulus, mereka kami nikahkan, kami siapkan tempat tinggal dan kami kuliahkan. Semuanya gratis. Syaratnya cuma satu, hafal Al Qur’an minimal 10 juz dan mau murojaah setiap hari,” terang Buya kepada saya.


Awal September Buya cerita panjang ide itu ke saya. Di teras rumahnya yang sederhana. Di bawah temaram lampu. Hampir dua jam.


Sebelumnya saya dengar ide besar itu dari salah satu guru Ponpes Hafidz Al Fatah, yang juga kawan lama saya, Akmalludin. Dia alumni pesantren ini tahun 2009.


Saya dengar ide besar itu detail dari Akmal. Lebih detail lagi dari Buya Saleh Hafidz.


Semua detail ide itu sudah Buya sampaikan ke orang-orang pesantren. Dari mulai ketua yayasan, kepala sekolah hingga santri tahu.


Buya bukan hanya ingin mewariskan ide itu ke mereka. Ia juga ingin mewariskan semangat mewujudkannya. Sebulan sekali ia rutin mengumpulkan mereka. Mengulangi ide itu, menyampaikan langkah yang sudah dicapai dan memotivasi mereka.


Ia sadar, usianya sudah senja. 71 tahun. Kampung itu proyek panjang. Ia khawatir usianya tak menjangkaunya. Maka orang-orang pesantren lah yang kelak memikul beban mewujudkannya.


“Seberapa penting ide itu diwujudkan ?” tanya saya.


Buya menjawab dengan lugas, “Biar tidak lagi yang meremehkan Al Qur’an.”


Kelak, tuturnya, semua orang akan melihat nyata para penghafal Al Qur’an tak pernah Allah telantarkan di dunia.


Saya lihat betul kecintaannya terhadap Al Qur’an. Buya hafal Al Qur’an sejak remaja. Hanya enam bulan ia menghafalnya. Saat nyantren di Ponpes Sa’adatud Daraain.


Tak heran, saat membersamainya di dalam mobil menuju rumah makan ia terlihat sibuk membaca Al Qur’an. 


Setiap hari, cerita Akmal, Buya bisa mengkhatamkan 30 juz Al Qur’an. Dua dari ketujuh anaknya penghafal Al Qur’an. Satu diantara mereka sedang merintis ponpes Tahfidz Al Qur’an. Satu lainnya pengurus pesantren Tahfidz di Samarinda. Sisanya pengurus di pesantren yang dibangun Buya.


Semua tenaga, pikiran & waktu mereka banyak terserap membina generasi penghafal Al Qur’an. MasyaAllah.


Saya sudah tak sabar melihat kampung Qur’an itu dibangun. Jika saat itu tiba, semoga saya masih sempat mencium tangan & kening Buya. [taufiqurrahman]


Sumber: Mi'raj News Agency

Lebih baru Lebih lama