Seruan Batalkan Konser Bocelli Kembali Jadi Sorotan Aksi Jumat ke-66

 


BASHIRAHNEWS.COM, JAKARTA — Teriakan takbir bersahutan dengan seruan "Al-Aqsa!" kembali menggema di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat. Massa yang telah puluhan kali berkumpul di lokasi ini kembali hadir pada Jumat, 16 Oktober 2026, dalam rangkaian Aksi Jumat Bela Palestina yang ke-66. Kali ini, aksi tidak hanya menyuarakan penderitaan rakyat Gaza, tetapi juga mempersoalkan panggung seni yang dinilai dimanfaatkan demi keuntungan pihak tertentu. Dengan semangat itu, aksi kali ini mengusung tema: "Sapu Bersih Zionisme dari Ibu Pertiwi, Boikot dan Batalkan Konser Andrea Bocelli."

‎Aksi yang digelar Aqsa Working Group (AWG) itu berlangsung pukul 16.00 hingga 17.00 WIB. Dalam seruannya, AWG mengajak seluruh masyarakat Indonesia, terutama umat Islam, untuk bersatu dan mendukung kemerdekaan Palestina. Seruan itu pun bergema lewat para orator. ‎Salah satunya, Angga Aminudin, M.I.Kom., dosen STAI Al-Fatah, menegaskan bahwa aksi yang telah berlangsung puluhan kali ini kini bertambah dengan tuntutan pembatalan konser Andrea Bocelli. Ia juga menekankan bahwa penolakan tersebut tidak ditujukan kepada seni.

‎"66 kali kita datang ke tempat ini dalam rangka Aksi Jumat Bela Palestina. 66 kali kita berteriak, kita menyerukan, hentikan genosida, kutuk Israel. 66 kali kita menyuarakan, mari bantu saudara-saudara kita di Gaza dan Palestina. Kami tidak membenci individu, bahkan kami tidak membenci seni, tapi ketika ada seorang artis atau seniman yang tampil di panggung mendukung negara penjajah, mendukung tentara Zionis Israel, kita akan lawan," ujarnya.

‎Dari sudut pandang mahasiswa, Sena Maryam Jamilah, mahasiswi STAI Al-Fatah Bogor, menyoroti bahwa persoalan konser ini lebih dari sekadar musik. Menurutnya, yang dipertaruhkan adalah pesan kemanusiaan yang hendak disampaikan Indonesia kepada dunia, dan masyarakat yang jauh dari Gaza tetap bisa berperan.

‎Menguatkan alasan penolakan itu, Presidium AWG, Muhammad Anshorullah, menjelaskan mengapa Bocelli dipersoalkan. Ia mengakui sang tenor digemari banyak orang dan mencatat banyak rekor dunia di bidang musik klasik, tetapi menurutnya hal itu tidak menghapus rekam jejaknya yang menuai kontroversi. Sang tenor disebut pernah menggalang dana untuk militer Israel (IDF) pada 2010 dan tampil di Tel Aviv pada 2022.

‎Setelah rentetan orasi tersebut, Oi Filistin dari Komunitas Punk membacakan puisi berjudul "Panggung yang Mengkhianati Konstitusi", yang menyindir Menteri Pariwisata dan seorang anggota DPR yang disebut membela konser dengan dalih kebebasan seni.

‎"Wahai Menteri Pariwisata, sejak kapan tiket konser lebih mahal dari darah Palestina? Sejak kapan tiket konser lebih suci dari amanat konstitusi? Wahai wakil rakyat, sejak kapan kau jadi humas Tel Aviv? MUI bicara soal nurani, soal Palestina, kau bungkam dengan dalih kebebasan seni. Kita tidak bersekutu dengan penjajahan, kita berdiri bersama yang terjajah. Palestina bukan sekadar isu negeri, Palestina adalah cermin dari diri kita sendiri," bunyi sebagian baitnya.

Aksi yang berlangsung sekitar satu jam itu ditutup dengan penggalangan infak dan doa bersama. Panitia lalu mengajak massa melanjutkan perjuangan di Bulan Solidaritas Palestina (BSP) 2026, yang akan dibuka di Lapangan Monas, Ahad, 1 November 2026. (Iffah Nazhifah)

Lebih baru Lebih lama