Kartini dan Cahaya Iman: Menemukan Kehormatan Perempuan di Balik Penjagaan Marwah

Sumber foto : mediapijar.com

Oleh Khodijah Nurul Husna | Mahasiswa Semester VI Prodi komunikasi dan Penyiaran Islam, STAI Al-Fatah

Setiap tanggal 21 April, kebaya dan konde menjadi pemandangan lumrah di berbagai sudut kota. Namun, di balik perayaan tahunan tersebut, terdapat makna mendalam dari perjuangan Raden Ajeng Kartini yang lebih dari sekadar busana: perjuangan untuk meningkatkan derajat dan menghargai peran perempuan.

Bagi Kartini, pendidikan bukanlah alat untuk "menandingi" laki-laki, melainkan sebagai cara bagi perempuan untuk menjadi pengajar pertama yang cerdas bagi generasi yang akan datang. Menariknya, semangat ini sangat sejalan dengan nilai-nilai agama yang memposisikan perempuan dalam kedudukan yang sangat terhormat.

1. Habis Gelap Terbitlah Terang: Refleksi Ayat Suci

Apakah Anda tahu bahwa nama buku terkenal karya Kartini, Door Duisternis tot Licht, terinspirasi dari kalimat dalam Al-Qur'an Minadh-Dhulumaati ilan-Nuur? Kartini yang pernah mendalami makna kitab suci di bawah arahan Kiai Sholeh Darat, menyadari bahwa kebodohan merupakan kegelapan, dan pengetahuan merupakan cahaya.

Agama ada bukan untuk mengikat perempuan, tetapi untuk melestarikan hakikatnya. Jika Kartini melawan tradisi pingitan yang membatasi, itu karena ia yakin bahwa secara spiritual, perempuan mempunyai hak yang sama untuk berkembang dan berkontribusi bagi orang lain.

2. Perempuan sebagai Pilar Negara

Dalam konteks agama, sering diucapkan bahwa "Perempuan adalah pilar negara; jika wanita baik, maka baik juga negaranya." Kartini sepenuhnya memahami visi ini. Ia ingin perempuan Indonesia menjadi kuat untuk bisa membangun keluarga yang solid.

Perlindungan agama terhadap perempuan terlihat dari:

- Perlindungan Hak: Jaminan untuk pendidikan, warisan, dan hak suara yang telah ada sejak ribuan tahun lampau.

- Kehormatan: Adanya ketentuan yang melindungi privasi dan martabat perempuan bukan sebagai bentuk pengekangan, tetapi sebagai pengakuan terhadap nilai yang sangat tinggi (seperti permata yang dijaga dalam tempatnya).

3. Emansipasi yang Beretika

Banyak orang salah paham menganggap emansipasi berarti meninggalkan kodrat. Kartini justru menunjukkan bahwa perempuan bisa cerdas, kritis, dan memiliki wawasan luas tanpa kehilangan identitasnya.

Agama mengajarkan bahwa kehormatan perempuan tidak diukur dari seberapa keras ia bersuara di ruang publik, melainkan dari seberapa besar pengaruh positif yang ia berikan bagi komunitas dan keluarganya sambil tetap mempertahankan kesopanan dan akhlak.

"Agama memang bertujuan untuk memuliakan perempuan, namun kebudayaan sering kali membuat perempuan kehilangan hak-haknya. Kartini hadir untuk memperbaiki itu: mengembalikan perempuan pada kemuliaan yang sejatinya dijanjikan oleh Tuhan."

Peringatan Hari Kartini tahun ini seharusnya menjadi kesempatan bagi kita semua—terutama bagi para wanita—untuk merenung. Menjadi "Kartini Masa Kini" artinya menjadi perempuan yang berpengetahuan, mandiri, namun tetap berpegang pada nilai-nilai religius yang menjaga kehormatannya.

Sebab, pendidikan tinggi tanpa pijakan spiritual yang kuat akan kehilangan arah. Di sisi lain, kepatuhan tanpa pengetahuan akan terasa kosong. Di titik pertemuan itulah, cahaya Kartini dan kemuliaan agama bersatu.

Lebih baru Lebih lama