BEM se-Bogor Raya Gelar Konsolidasi Soroti Krisis Infrastruktur Hingga Program MBG

BASHIRAHNEWS.COM, BOGOR –  Perwakilan mahasiswa dan pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari berbagai perguruan tinggi di Kabupaten dan Kota Bogor menggelar pertemuan silaturahmi sekaligus Halalbihalal di Cafe & Resto Mpo Yani, Pekan Sari, Bogor, pada Jumat (10/4). Pertemuan tersebut menjadi momentum konsolidasi mahasiswa untuk menyoroti berbagai krisis daerah dan isu nasional yang krusial.

Sejumlah kampus yang hadir dalam pertemuan tersebut antara lain Universitas Tazkia, Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) Dewantara, Universitas IPWIJA, Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Fatah, Universitas Muhammadiyah Cileungsi (UMCI), Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Sirojul Falah, Sekolah Tinggi Ilmu Syar'i (STIS) Al Wafa, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) GICI, Politeknik Bisnis Digital Indonesia, dan Institut Ummul Quro Al-Islami (IUQI).

Pertemuan diawali dengan suasana hangat membahas perkembangan mengenai masing-masing perguruan tinggi, namun fokus utama diskusi beralih pada tiga isu besar yang dinilai mendesak untuk segera ditangani pemerintah.

Darurat Pendidikan dan Kriminalitas di Bogor Timur

Isu pertama yang menjadi sorotan adalah di wilayah Bogor Timur, khususnya Kecamatan Sukamakmur. 

Para mahasiswa memaparkan data memprihatinkan mengenai rata-rata lama sekolah warga yang hanya mencapai enam tahun. Selain itu, rendahnya tingkat kesehatan akibat minimnya fasilitas rumah sakit dan infrastruktur jalan yang rusak tanpa penerangan menjadi pemicu tingginya angka kecelakaan.

Di sisi lain, kawasan Cileungsi juga disorot terkait tingginya angka pengangguran yang memicu kriminalitas, terutama pencurian kendaraan bermotor (curanmor), praktik pungli di jalur wisata, hingga maraknya peredaran obat-obatan terlarang dan tawuran remaja.

Tragedi Tambang Ilegal di Bogor Barat

Beralih ke wilayah Bogor Barat, mahasiswa menyoroti persoalan tambang ilegal yang hingga kini belum menemukan solusi konkret. Tragedi tewasnya sebelas penambang ilegal dalam sepekan terakhir menjadi bukti nyata lemahnya pengawasan. 

Selain itu masalah lingkungan seperti polusi debu jalanan yang membahayakan kesehatan, kerusakan bangunan sekolah, hingga manajemen sampah yang tidak didasari naskah akademik juga menjadi poin tuntutan para aktivis kampus tersebut.

Kritik Tajam Program Makan Bergizi Gratis (MBG)

Pada skala nasional, mahasiswa memberikan kritik tajam terhadap implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dari hasil pemantauan lapangan, ditemukan berbagai kejanggalan seperti penggunaan ahli gizi yang tidak terverifikasi hingga temuan buah-buahan tidak layak konsumsi di beberapa dapur di Cileungsi.

Data menunjukkan, dari 73 unit dapur di Bogor Raya, hanya tiga unit yang telah memenuhi standar Badan Gizi Nasional (BGN). Persoalan jam operasional yang tidak sesuai serta pengelolaan limbah dapur yang buruk dinilai sebagai bentuk pemborosan anggaran. 

Mahasiswa mendesak agar alokasi dana tersebut dialihkan untuk pengadaan alat standar yang lebih mendesak.

Langkah Strategis 

Menindaklanjuti temuan tersebut, para mahasiswa menyepakati sejumlah langkah taktis. Pertama, mereka akan melakukan dokumentasi kondisi sekolah rusak di Sukamakmur untuk dilaporkan secara resmi ke Dinas Pendidikan, sekaligus membentuk gerakan masyarakat berbasis data lapangan.

Terkait isu MBG, perwakilan mahasiswa akan melayangkan surat ke Badan Gizi Nasional (BGN) guna mendesak pembentukan Satuan Tugas (Satgas) inspeksi mendadak (sidak) ke dapur Satuan Pelayanan Persiapan Gizi (SPPG).

Seluruh rangkaian gerakan ini direncanakan memasuki tahap identifikasi dan penjajakan lapangan yang akan dilaksanakan secara intensif mulai tanggal 11 hingga 20 April 2026.



Lebih baru Lebih lama