BASHIRAHNEWS.COM, JAKARTA – Aqsha Working Group (AWG) kembali menggelar aksi solidaritas untuk Palestina, di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat, Jakarta Pusat, Jumat (17/4/2026) sore. Selain mengecam tindakan brutal zionis Israel di Masjidilaqsa, aksi edisi ke 44 ini menjadi momentum krusial untuk memperingati Hari Tahanan Palestina yang jatuh setiap tanggal 17 April.
Mengusung tema "Alerta! Zionis Israel Semakin Brutal Nodai Al-Aqsa. Bersatu Rapatkan Barisan, Lawan!", peserta aksi menegaskan bahwa dunia tidak boleh menutup mata terhadap nasib sekitar 10 ribu warga Palestina yang saat ini masih mendekam di penjara-penjara Israel.
Ketua Presidium Aqsa Working Group (AWG), Muhammad Anshorullah, dalam sambutannya menekankan bahwa tanggal 17 April adalah hari yang didedikasikan untuk solidaritas bagi para pejuang Palestina yang dirampas kemerdekaannya.
“Hari Tahanan Palestina bukan sekadar seremonial, melainkan momen penting untuk menegaskan kembali hak-hak kemanusiaan para tahanan dan menuntut pertanggungjawaban internasional atas perlakuan keji yang mereka terima di dalam penjara,” tegasnya di hadapan massa.
Kehadiran massa di depan Kedubes AS juga bertujuan untuk mendesak kekuatan global agar menekan Israel untuk segera membebaskan para tahanan sipil, termasuk perempuan dan anak-anak.
Aksi yang dipandu oleh MC Sena Maryam Jamilah ini dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an oleh Kazwa. Suasana haru menyelimuti lokasi saat sejumlah penampil dan orator, di antaranya Nisa Kartini dan Indah Azzahra, menyampaikan puisi dan orasi yang menggambarkan penderitaan para tahanan di balik jeruji besi zionis.
Selain itu, Muhammad Ridwan, Sarah, Zakiyah, Fathul, dan Faisal Hidayaturrohman juga bergantian menyampaikan orasi yang menyerukan persatuan seluruh elemen masyarakat Indonesia untuk terus bergerak membela kesucian Masjidil Aqsa yang terus dicemari oleh tindakan brutal militer Israel.
Aksi yang berlangsung mulai pukul 16.00 hingga 17.30 WIB ini berjalan dengan tertib. Di tengah orasi, panitia juga melakukan penarikan infak operasional sebagai bentuk dukungan nyata terhadap keberlangsungan gerakan advokasi Palestina di Indonesia.
Acara kemudian ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Yusuf Maulana. Dalam doanya, massa memohon kekuatan bagi rakyat Palestina yang sedang berjuang, khususnya bagi ribuan tahanan agar segera mendapatkan keadilan dan kemerdekaan.
Melalui aksi ini, masyarakat Indonesia kembali mengirimkan pesan kuat kepada dunia bahwa dukungan terhadap Palestina tidak akan pernah surut hingga blokade dan penjajahan benar-benar berakhir. [Bahrul Ihsan]
