I‘tikaf di Tengah Masalah Dunia

Foto by Ridho Saleh 

Oleh: Angga Aminudin,M.I.Kom (Pembina UKM STAI Al-Fatah)

Apa yang dirasakan sebagian besar masyarakat global saat ini adalah dunia hari ini terasa semakin bising. Setiap hari kita dibanjiri kabar tentang konflik geopolitik, lonjakan harga energi, hingga ketidakpastian ekonomi global. Laporan World Economic Outlook IMF beberapa tahun terakhir bahkan memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia hanya berada di kisaran 3,2 persen. Di tengah arus informasi yang terus mengalir itu, manusia modern sering bereaksi dengan cara yang sama: bekerja lebih keras, memantau berita lebih sering, dan terus memikirkan kemungkinan terburuk.

Namun, semakin banyak informasi yang kita konsumsi, semakin sulit pula kita untuk berpikir jernih. Di titik inilah ajaran Islam menawarkan praktik spiritual yang menarik untuk direnungkan kembali dan momennya tepat sekali di bulan Ramadan yang suci, yaitu i’tikaf. Amalan yang selama ini sering dipahami sekadar ritual Ramadan, khususnya pada sepuluh malam terakhir, dengan berdiam diri di masjid untuk memperbanyak ibadah. Padahal jika dipahami lebih mendalam, i’tikaf memiliki dimensi yang jauh melampaui ritual personal. Ia menyimpan pelajaran penting tentang bagaimana manusia mengelola ketenangan batin di tengah ketidakpastian dunia.

Mengutip dari berbagai sumber literatur, jika dimaknai dalam bahasa kehidupan modern, i’tikaf adalah keberanian untuk mematikan “notifikasi dunia” sejenak. Kita berhenti dari kebisingan informasi yang menyesakkan, menjauh dari tekanan sosial, dan memberi ruang bagi pikiran untuk bernapas kembali. Kehidupan manusia di era informasi sekarang ini tidak hanya membutuhkan data, tetapi juga ruang refleksi. Dalam konteks inilah i’tikaf dapat dipahami sebagai bentuk strategic retreat—sebuah ruang jeda untuk berpikir lebih jernih sebelum mengambil keputusan penting dalam hidup.

Dalam Sirah Nabawiyah, ketika malam-malam terakhir tiba dan aktifitas Madinah meredup, Nabi Muhammad ﷺ memilih berdiam. Bukan untuk menjauh dari dunia, melainkan untuk menempatkan dunia pada jarak yang aman dari hatinya. I‘tikaf dengan tinggal di masjid, memutus diri dari hiruk-pikuk. Bukan ritual tambahan, melainkan poros batin dari seluruh perjalanan kenabian. I‘tikaf yang dilakukan secara konsisten pada sepuluh malam terakhir Ramadhan bukan hanya dibaca sebagai kesalehan personal seorang utusan Allah. Amalan itu adalah pernyataan sunyi tentang kepemimpinan ummat.

Sebagaimana yang dapat diketahui dari beberapa riwayat Imam Bukhari dan Muslim, dalam sebuah riwayat Sayidatina Aisyah radhiyallahu anha berkata, selama 10 hari terakhir bulan Ramadan Baginda Rasulullah ﷺ mengencangkan ikat sarungnya dan bangun malam, serta membangunkan keluarganya untuk beribadah. "Maksudnya mengencangkan ikat sarungnya adalah beliau lebih bersungguh-sungguh dalam beribadah dari pada hari-hari lainnya. 

Ironisnya, kondisi umat Islam saat ini sebagian memperlakuan amalan I’tikaf sangat jauh berbeda dengan perlakuan mayoritas umat Islam terdahulu dalam menghidupkan ibadah di penghujung Ramadhan. Sekarang kualitas ibadah terpelihara hanya di 10 hari pertama saja. Mesjid-mesjid ramai dipenuhi oleh Jama’ah. Tilawah Al-Qur’an masih terjaga. Infak-infak mudah terderma. Namun, ketika memasuki 10 hari kedua, amalan-amalan tersebut mulai mengendur, hingga kemudian makin menyusut ketika memasuki 10 terakhir bulan Ramadhan.

Hal tersebut mengindikasikan bahwasanya ibadah-ibadah di penghujung Ramadhan kehilangan sensitifitasnya. perhatian tidak terfokus kepada peningkatan ibadah melainkan teralihkan kepada persiapan menyambut hari raya Iedul Fitri, berbelanja, membuat kue, mudik, dan lain sebagainya. Tentunya hal ini patut kita prihatinkan, sebab begitu jauhnya kita dari tuntunan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam. Oleh karena itu, untuk menghindarinya maka hendaklah kita beri’tikaf sesuai dengan tuntunan yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. Sebagi sarana untuk menjaga sensitifitas ibadah yang sudah terbentuk sejak awal Ramadhan.

Terlebih lagi dengan turunnya lailatul qadar di 10 malam terakhir, yaitu malam yang lebih baik dari 1.000 bulan. Hal ini jugalah yang kemudian menjadi penyebab Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam, para sahabatnya, dan orang-orang shalih yang mengikutinya justru semakin meningkatkan ibadahnya di 10 hari terakhir Ramadhan. I’tikaf tidak lagi sekadar ritual tahunan yang dilakukan pada akhir Ramadan. Ia juga dapat menjadi sarana upgrading diri untuk memperkuat kualitas kepemimpinan—baik dalam keluarga, organisasi, maupun kehidupan sosial.

Dalam kesunyian i’tikaf, manusia belajar menata kembali hati dan pikirannya. Dari sana lahir ketenangan, ketangguhan, dan kejernihan strategi. Sejarah menunjukkan bahwa di tengah badai sebesar apa pun, kapal biasanya selamat bukan karena lautnya menjadi tenang, tetapi karena kaptennya mampu tetap tenang. Mungkin, di tengah dunia yang terlalu bising hari ini, kita memang perlu belajar satu hal sederhana: sesekali menepi, I’tikaf.

Wallahu a'lam bisshawab

Lebih baru Lebih lama