
(Republika online)
BASHIRAH NEWS.COM, BOGOR – Seluruh badan usaha penyalur Bahan Bakar Minyak (BBM) di Indonesia sepakat menaikkan harga jual BBM non-subsidi yang sudah dimulai sejak 1 Maret lalu, dan masih berlanjut hingga Senin (16/03). Langkah ini dilakukan secara bersamaan oleh berbagai penyalur, mulai dari SPBU Pertamina hingga swasta seperti Shell Indonesia, BP-AKR, Vivo Energy Indonesia, dan Mobil Indostation milik ExxonMobil.
Kenaikan harga ini dipengaruhi oleh pergerakan harga minyak rata-rata dua bulan sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, serta Mean of Platts Singapore (MOPS). Menurut laporan, kenaikan ini belum terpengaruh oleh konflik di Timur Tengah antara Israel dan Amerika Serikat dengan Iran.
Di wilayah Jabodetabek dan DKI Jakarta, contohnya, harga Pertamax (RON 92) naik menjadi Rp12.300 per liter dari sebelumnya Rp11.800 per liter. Pertamax Green (RON 95) kini dibanderol Rp12.900 per liter, Pertamax Turbo (RON 98) Rp13.100 per liter, Dexlite Rp14.200 per liter, dan Pertamina Dex Rp14.500 per liter.
Sementara itu, BBM subsidi seperti Pertalite (RON 90) dan Solar subsidi tetap tidak mengalami kenaikan, masing-masing seharga Rp10.000 dan Rp6.800 per liter.
SPBU swasta juga ikut menyesuaikan harga. Di BP-AKR, harga BP 92 menjadi Rp12.390 per liter, BP Ultimate Rp12.920 per liter, dan BP Ultimate Diesel Rp14.620 per liter.
Di Shell, Shell Super (RON 92) dibanderol Rp12.390 per liter dan Shell V-Power Diesel Rp14.620 per liter, meski ketersediaan di beberapa SPBU Shell masih terlihat kosong. Harga BBM non-subsidi per 1 Maret 2026 tersebut masih berlaku hingga 16 Maret 2026.
Merespons kenaikan harga ini, PT Pertamina Patra Niaga mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembelian berlebihan atau panic buying.
Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Mars Ega Legowo Putra, menyatakan bahwa pihaknya telah menyiapkan pasokan BBM jauh hari sebelumnya dan panic buying justru akan menimbulkan efek yang kurang baik.
Hal senada juga disampaikan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia. Ia menegaskan bahwa stok BBM selalu tersedia di seluruh tanah air dan pasokan nasional dalam kondisi aman karena produksi dan distribusi terus berjalan sesuai standar stok operasional yang ditetapkan pemerintah.
Sebagai langkah jangka panjang, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, pemerintah akan meningkatkan kapasitas penyimpanan BBM. Rencana ini mencakup pembangunan infrastruktur penyimpanan baru yang mampu menampung stok BBM setidaknya untuk tiga bulan. [Bahrul Ikhsan Al Buhori]
Sumber: Antara news, CNBC Indonesia, Republika Online