Pergantian Tahun dan Kesadaran Spiritual

Ilustrasi perayaan tahun baru. Foto: detik.com

Oleh: Angga Aminudin,M.I.Kom (Pembina UKM STAI Al-Fatah)

Pergantian tahun sering kali disambut dengan pesta, kembang api, dan berbagai resolusi besar. Namun dalam Islam, tahun baru bukan sekadar soal angka yang berubah di kalender. Ia adalah momentum sunyi muhasabah untuk berhenti sejenak, menoleh ke belakang, lalu bertanya dengan jujur pada diri sendiri: sudah sejauh apa kita melangkah menuju Allah SWT?

Islam tidak mengajarkan umatnya untuk berlebihan dalam perayaan, apalagi momen pergantian tahun, tidak perlu dirayakan. Tetapi juga, ajaran Islam tidak menyuruh kita mengabaikan pergantian waktu begitu saja. Sikap yang diajarkan adalah keseimbangan—tenang, sadar, dan penuh makna.

Tahun Berganti, Umur Berkurang

Setiap kali tahun berganti, sejatinya bukan hanya usia yang bertambah, tetapi jatah hidup di dunia yang semakin berkurang. Waktu adalah nikmat besar yang sering luput dari perhatian kita. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah ﷺ pernah mengingatkan bahwa banyak manusia lalai terhadap dua hal: waktu luang dan kesehatan.

Tahun baru menjadi pengingat yang lembut namun serius. Bukan untuk menakut-nakuti diri, melainkan untuk menyadarkan hati. Apakah waktu yang berlalu membuat kita semakin dekat kepada Allah, atau justru menjauh tanpa disadari?

Muhasabah: Jujur Tanpa Menghukum Diri

Islam sangat menekankan muhasabah diri. Sayyidina Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah berpesan, “Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab.” Namun muhasabah bukan berarti tenggelam dalam penyesalan atau terus menyalahkan diri sendiri.

Muhasabah yang sehat adalah keberanian untuk jujur. Mengakui kekurangan tanpa putus asa, dan mensyukuri nikmat tanpa merasa paling baik. Pertanyaan-pertanyaan sederhana sering kali lebih bermakna: apakah shalat sudah lebih terjaga dengan tepat waktu Ketika mengerjakannya, apakah lisan lebih sering menenangkan daripada melukai orang lain, dan apakah taubat masih menjadi agenda ketika khilaf atau malah sering ditunda?

Resolusi: Niat Baik yang Bisa Dijaga

Islam tidak melarang resolusi tahun baru. Bahkan, niat baik saja sudah bernilai ibadah. Namun Islam juga mengajarkan agar niat itu realistis dan tidak memberatkan diri. Fokusnya bukan pada kesempurnaan, melainkan konsistensi atau istiqomah dalam kebaikan.

Daripada target besar yang sulit dijaga, niat dengan amalan baik yang sederhana namun istiqamah jauh lebih bernilai. Menjaga shalat tepat waktu, mengurangi ghibah, membiasakan dzikir walau sebentar, atau lebih sabar kepada keluarga, kerabat, dan sahabat—semua itu mungkin terlihat kecil, tetapi dicintai Allah dan sangat bernilai jika dilakukan terus-menerus.

Tidak Melulu Dunia, Jangan Lupa Akhirat

Sering kali resolusi tahun baru hanya berkisar pada karier, keuangan, kesenangan dan pencapaian dunia. Padahal Islam mengajarkan bahwa hidup bukan hanya tentang dunia, melainkan juga bekal akhirat. Menariknya, Islam tidak memisahkan keduanya. Bekerja atau dengan jujur, menafkahi keluarga, dan sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu bisa bernilai ibadah jika niatnya lurus. Dunia bukan untuk ditinggalkan, tetapi untuk dijalani dengan kesadaran bahwa semua akan dimintai pertanggungjawaban.

Tahun Baru, Saatnya Memperbanyak Taubat

Momentum tahun baru sangat tepat untuk kembali pada Allah SWT dengan taubat yang tulus. Taubat bukan hanya untuk dosa besar, tetapi juga kelalaian sehari-hari: Shalat yang sering ditunda, emosi yang tak terjaga, hati yang iri dengki, atau kebaikan yang sengaja ditunda. Dengan taubat, buang rasa sesal dan kesal karena hati yang kotor. Bersihkan dengan dengan berprasangka baik kepada Allah dan hiasi hati ini dengan dzikir dan fikir.

Allah Maha Pengampun, dan pintu taubat selalu terbuka selama nyawa belum sampai di tenggorokan. Kadang, yang paling kita butuhkan bukan rencana baru, melainkan hati yang dibersihkan Kembali menjadi Qolbun Salim.

Berdoa, Berusaha, dan Bertawakal

Di suasana tahun baru ini harus tumbuh sikap optimis. Islam tidak mengajarkan pesimisme, tetapi juga tidak membenarkan harapan tanpa usaha. Seorang muslim diajarkan untuk berdoa dengan penuh harap, berusaha semampunya, lalu bertawakal atas hasilnya. Jika tahun lalu terasa berat, jangan buru-buru berputus asa. Bisa jadi Allah SWT sedang menguatkan kesabaran, membersihkan hati, atau menyiapkan sesuatu yang lebih baik dari yang kita bayangkan.

Tahun Baru sebagai Jalan Pulang

Dalam Islam, tahun baru bukan tentang siapa yang paling sukses, tetapi siapa yang semakin sadar arah hidupnya. Menjadi lebih taat, lebih rendah hati, dan lebih jujur pada diri sendiri. Hidup ini adalah perjalanan pulang menuju Allah SWT. Tahun demi tahun hanyalah penanda jarak. Semoga di tahun yang baru ini, kita tidak harus menjadi sempurna, tetapi menjadi pribadi yang lebih diridhai-Nya—lebih dekat kepada Allah, lebih lembut kepada sesama, dan lebih sadar akan tujuan hidup.

Wallahu’alam bis showwab


Lebih baru Lebih lama