Jalan Pulang yang Sebenarnya Tak Pernah Benar-Benar Pulang

photo by Republika  

Oleh Luthfi Muhamad Abduh | Mahasiswa Semester V Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam, STAI Al-Fatah


Opini tentang Novel Pulang karya Tere Liye

Novel Pulang karya Tere Liye adalah salah satu karya yang bukan hanya bercerita tentang perjalanan hidup seseorang, tetapi juga tentang arti kembali bukan sekadar ke tempat asal, melainkan ke jati diri yang sejati. Ceritanya mengikuti kisah seorang anak kampung bernama Bujang yang tumbuh menjadi sosok kuat di dunia gelap penuh kekuasaan dan bahaya. Namun di balik semua perjalanan panjang itu, ada satu benang merah yang terus dijaga: kerinduan akan rumah, dan makna pulang yang sesungguhnya.


Bagi saya, Pulang bukan hanya kisah tentang perantauan atau perjuangan hidup, melainkan tentang pertarungan batin manusia antara kerasnya dunia luar dan lembutnya hati yang merindukan kedamaian. Bujang adalah gambaran manusia modern, ambisius, tangguh, tapi di dalam hatinya ada kekosongan yang hanya bisa diisi oleh rasa damai dan penerimaan.


Tere Liye menulis dengan gaya yang sederhana namun penuh makna. Setiap dialog dan narasi membawa pembaca ikut merenung. Ia tidak berusaha memamerkan kata-kata rumit, tapi justru menyalurkan kedalaman perasaan lewat kalimat yang tenang. Inilah kelebihan utama buku ini: bahasanya mudah dipahami, namun meninggalkan bekas yang dalam.


Novel ini juga menyentuh sisi spiritual dan moral. Dalam dunia yang keras, penuh intrik dan kekerasan, Tere Liye tetap mengingatkan pembaca bahwa kebaikan dan hati nurani tidak boleh mati. Ia ingin menunjukkan bahwa sebesar apa pun dosa, sejahat apa pun masa lalu seseorang, masih ada jalan pulang, asalkan kita mau membuka hati untuk berubah.


Salah satu hal yang menarik dari Pulang adalah caranya menggambarkan konflik batin Bujang. Ia hidup di tengah kekuasaan dan kekerasan, tapi di sisi lain, ada perasaan kehilangan dan kerinduan yang ia sembunyikan. Saat membaca kisahnya, saya merasa bahwa “pulang” di sini bukan tentang kembali ke rumah fisik, melainkan perjalanan untuk menemukan makna diri, keluarga, dan Tuhan.


Tere Liye juga mengajak pembaca untuk melihat bahwa dunia tidak selalu hitam putih. Dalam novel ini, yang disebut “jahat” kadang justru memiliki sisi kemanusiaan, sementara yang tampak “baik” belum tentu benar-benar bersih. Pandangan ini terasa jujur dan dekat dengan kehidupan nyata, di mana setiap orang punya alasan atas apa yang mereka lakukan.


Hal yang membuat novel ini berkesan adalah bagaimana penulis mengakhiri cerita tanpa benar-benar menutupnya. Setelah semua perjalanan panjang, kita sadar bahwa “pulang” bukan akhir dari perjalanan, melainkan awal dari pemahaman baru tentang hidup.


Kesimpulan Pribadi

Novel Pulang mengajarkan bahwa hidup tidak sekadar tentang pergi sejauh mungkin, tetapi juga tentang keberanian untuk kembali, kembali kepada hati, keluarga, dan kebenaran. Tere Liye berhasil menggambarkan bahwa setiap manusia, sekeras apa pun kehidupannya, selalu punya ruang untuk pulang.


Bagi saya, buku ini bukan hanya cerita, tapi cermin. Ia mengingatkan bahwa “pulang” bukan soal tempat, tapi soal perasaan saat kita akhirnya berdamai dengan masa lalu, memaafkan, dan menemukan arti kedamaian dalam diri sendiri.[]


Lebih baru Lebih lama