BASHIRAH MEDIA

Keraton Ratu Boko, Istana Raja yang Jadi Situs Purbakala

Foto dok. KKN STAI Al Fatah Bogor 2021

Oleh Arina Islami | Mahasiswi Komunikasi Penyiaran Islam, STAI Al Fatah Bogor

YOGYAKARTA memang tidak pernah gagal menyuguhkan beragam destinasi wisata, mulai dari wisata alam, wisata sejarah, sampai wisata budaya. Perpaduan antara alam dan budayanya selalu bisa mengundang wisatawan untuk berkunjung ke Kota Gudeg ini.

Candi Ratu Boko menjadi salah satu pariwisata purbakala yang ada di Yogyakarta. Tepatnya berada di Gatak, Desa Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman.

Nama Candi Ratu Boko diambil dari nama seorang raja Mataram bernama Ratu Boko. Raja Ratu Boko diyakini sebagai ayah dari Roro Jonggrang yang kita kenal dalam cerita populer Roro Jonggrang. Candi ini dipercaya merupakan reruntuhan istana, maka dari itu candi ini disebut juga sebagai Keraton Ratu Boko.

Penemuan dari sejarah Keraton Ratu Boko ini dimulai oleh orang Belanda bernama H.J. De Graff pada abad ke 17. Kemudian dilanjutkan oleh para arkeolog sampai akhirnya menemukan fakta bahwa Situs Ratu Boko ternyata merupakan peninggalan Agama Budha. Hal ini diketahui dengan adanya Arca Dyani Budha. Tetapi situs ini pun bisa juga disebut sebagai peninggalan agama Hindu yaitu dengan ditemukannya Arca Durga, Yoni, dan Ganesha.

Situs ini berada di suatu kawasan dengan luas 250.000 meter persegi dan terletak di atas puncak bukit dengan ketinggian 200 mdpl. Keraton Ratu Boko ini memiliki cukup banyak bagian bangunan, namun saat ini kawasan tersebut hanya berupa sisa reruntuhan bekas bangunan istana.

Beberapa arsitektur yang ada di kawasan ini antara lain, dua gerbang utama yaitu, gerbang dalam dan juga luar yang terletak di bagian barat situs ini. Terdapat pula beberapa candi di dalam kompleks Keraton Ratu Boko, yaitu Candi Batu Kapur atau Batu Putih di bagian timur laut.

Selain Candi Batu Kapur, di dalam Keraton Ratu Boko juga terdapat Candi Pembakaran. Di bangunan Candi Pembakaran Anda juga bisa melihat Sumur Suci yang berukuran 2,3 x 1,8 meter. Air di sumur ini dahulu digunakan untuk upacara keagamaan yang berlangsung di Candi Pembakaran. Ada juga gua dan tempat pemandian istana Ratu Boko.
Kolam pemandian istana Ratu Boko


Kawasan Situs Ratu Boko ini dihiasi dengan rerumputan hijau dan pepohonan rindang yang membuatnya semakin asri. Untuk menikmati sejuknya pemandangan di kawasan ini, wisatawan bisa bersantai di kursi-kursi yang sudah disediakan oleh pihak pengelola.

Kawasan ini juga dilengkapi dengan tempat perkemahan, trekking, paket wisata edukatif dan pemandu yang bisa dimanfaatkan oleh para wisatawan.

Perjalanan Anda mengelilingi kawasan Keraton Ratu Boko ini juga akan dihibur dengan tembang lagu khas Jawa yang didendangkan oleh seniman lokal, Mbah Gono beserta kawan-kawannya.

Seniman lokal, Mbah Gono

Fasilitas di kawasan Keraton Ratu Boko sangat lengkap, mulai dari mushola, pendopo, toilet, sampai stand jajanan. Harga tiket masuknya pun relatif murah, yakni 25 ribu rupiah untuk usia di atas 6 tahun dan untuk yang masih berusia di bawah 6 tahun akan dikenakan biaya 10 ribu rupiah. Sedangkan untuk wisatawan asing dikenakan biaya sebesar 13 dollar. Situs ini buka setiap hari, mulai dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore.

Keraton atau Candi Ratu Boko adalah peninggalan sejarah yang berharga. Banyak pengetahuan baru yang bisa didapatkan dengan berwisata ke tempat ini.

Jadi, kapan nih Sahabat Bashirah berkunjung ke sini?
Lebih baru Lebih lama