![]() |
| (Sumber Foto : Mahasiswa KKN Mandiri Tasikmalaya) |
BASHIRAHNEWS.COM, TASIKMALAYA — Pondok Pesantren (Ponpes) Shuffah Al Jama'ah Tasikmalaya menggelar bedah buku "Ash Shuffah" karya Imamul Muslimin KH Yakhsyallah Mansur, M.A., pada Sabtu (24/10/2026). Kegiatan berlangsung pukul 08.00 hingga 11.30 WIB di Aula Adjidjie Fakhrurrazi Lantai 2 Ponpes Shuffah Al Jama'ah.
Acara ini diselenggarakan oleh Ponpes Shuffah Al Jama'ah dan ditujukan bagi civitas akademika, guru, pimpinan PAUD, TK, dan madrasah, pimpinan pondok pesantren, serta asatidz/asatidzah di wilayah Jawa Barat. Hadir pula jajaran pemerintah desa dan kecamatan setempat.
Dalam sambutannya, Mudir Ponpes Shuffah Al Jama'ah menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan di aula yang baru digunakan sejak sepekan lalu. Ia menegaskan bahwa bedah buku ini menjadi momentum penting untuk menyamakan persepsi dan menerapkan konsep pendidikan Islam yang diwariskan Rasulullah SAW.
"Konsep pendidikan Ash-Shuffah yang telah diterapkan di pesantren ini memasuki tahun ke-6 sejak diresmikan pada tahun 2021. Keberhasilannya sudah bisa dirasakan dalam mendekati kesempurnaan konsep Rasulullah SAW. Sebagai pendidik, kita tidak bisa lepas dari literasi. Membaca adalah perintah, dan peningkatan kualitas pendidikan sangat dibutuhkan oleh para asatidz," ungkapnya.
Senada dengan itu, Pembina Utama Ustadz Munif Natsir, S.Ag., menyoroti pentingnya umat Islam kembali kepada metodologi (manhaj) aslinya. Menurutnya, konsep Ash-Shuffah relevan dengan prinsip efektivitas pendidikan modern, seperti Teori Pareto (20% teori, 80% praktik), yang terbukti menjawab kebutuhan manusia dan pernah membawa peradaban Islam mencerahkan dunia.
Sementara itu, penulis buku, KH Yakhsyallah Mansur, M.A., membagikan latar belakang dan tantangan penulisan buku yang berawal dari proposal magister tersebut. Beliau menyebut tiga kesulitan utama: kelangkaan literatur hingga harus menelusuri ke Makkah, Madinah, dan Kuala Lumpur; penentuan pembimbing akademis; serta keterbatasan waktu atau kejar tayang.
Melalui bedah buku ini, penyelenggara berharap dapat memperluas wawasan keislaman, memperkuat budaya literasi di lingkungan pesantren, dan menjadikan karya-karya keislaman sebagai khazanah dalam mencetak generasi pendidik yang berkualitas. (Rizki Nur Hidayat)
