![]() |
| foto by Annisa Widya Putri |
BASHIRAHNEWS.CIM, BOGOR – Gelombang protes terhadap tindakan sewenang-wenang Israel di Jalur Gaza kembali memuncak. Dalam aksi "Jumat untuk Palestina" edisi ke-45 yang digelar di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat, Jakarta, Jumat (24/4), sejumlah mahasiswa dari STAI Al-Fatah melakukan aksi teatrikal dengan membakar bendera serta foto-foto petinggi yang menjadi simbol Zionisme Israel.
Aksi pembakaran ini merupakan bentuk kemarahan sekaligus protes keras atas alih fungsi Rumah Sakit (RS) Indonesia di Gaza menjadi markas militer oleh pasukan pertahanan Israel (IDF).
Simbol Perlawanan Mahasiswa
Di tengah kerumunan massa, perwakilan mahasiswa STAI Al-Fatah menyampaikan orasi yang membakar semangat. Mereka menegaskan bahwa tindakan Israel memasang atribut nasional dan menggunakan fasilitas kesehatan sebagai barak militer adalah penghinaan nyata terhadap bangsa Indonesia.
"RS Indonesia dibangun dari dukungan dan donasi rakyat Indonesia untuk kemanusiaan, bukan untuk menjadi markas penjajah. Pembakaran ini adalah simbol bahwa kami tidak akan pernah tunduk pada imperialisme," seru salah satu orator
Respons atas Provokasi di Gaza
Aksi yang diinisiasi oleh Aqsa Working Group (AWG) ini mengusung tema "Lindungi Rumah Sakit Indonesia di Gaza: Bersatu Lawan Imperialisme Zionis Israel dan Amerika". Hal ini dipicu oleh beredarnya dokumentasi yang menunjukkan tentara Israel memasang spanduk berbahasa Ibrani dan bendera Bintang Daud di gedung RS Indonesia.
Ketua Presidium AWG, Anshorullah, sebelumnya telah menyatakan bahwa tindakan tersebut merupakan provokasi yang melanggar hukum internasional. RS Indonesia yang telah beroperasi sejak 2015 tersebut merupakan bangunan monumental hasil kolaborasi MER-C dan rakyat Indonesia.
Pelanggaran Hukum Internasional
Selain aksi teatrikal, massa juga menyoroti pengabaian hukum humaniter internasional oleh pihak Israel. Peserta aksi menuntut agar:
1. Fasilitas medis harus segera dikosongkan dari aktivitas militer.
2. Perlindungan internasional diberikan kepada aset-aset kemanusiaan di wilayah konflik.
3. Pemerintah Amerika Serikat berhenti mendukung tindakan ilegal yang dilakukan oleh sekutunya.
Aksi berjalan dengan pengawalan ketat dari aparat kepolisian. Meski sempat memanas saat prosesi pembakaran simbol-simbol Zionis, massa tetap tertib hingga akhir kegiatan dan berjanji akan terus mengawal isu ini sampai RS Indonesia dikembalikan fungsinya sebagai pusat kesehatan warga Gaza dan hingga Palestina merdeka
