Oleh Annisa Widya Putri | Mahasiswa Semester V Prodi Komunikasi Dan Penyiaran Islam, STAI Al-Fatah
Di tengah laju informasi yang begitu cepat di dunia digital, kita sering terseret dalam arus informasi tanpa henti.
Media sosial, pesan teks, dan notifikasi di ponsel membuat kita terbiasa untuk terus berbicara, berbagi, dan menyatakan pendapat. Namun, di tengah hiruk-pikuk ini, suatu kemampuan yang sangat penting justru semakin langka, yaitu kemampuan untuk mendengarkan dengan baik. Ironisnya, di tengah kemajuan teknologi yang pesat, kita seolah terhubung lebih dekat satu sama lain, tetapi banyak orang malah merasa semakin kesepian dan diabaikan. Komunikasi yang efektif tidak hanya terletak pada seberapa baik kita menyampaikan pesan, tetapi juga seberapa dalam pemahaman kita terhadap orang lain.
Bayangkan seorang teman datang dengan ekspresi sedih, menceritakan masalah yang dihadapinya di kampus.
Ada dua cara kita bisa merespons: Pertama, kamu melanjutkan scrolling ponsel sambil sesekali mengangguk, kemudian juga berkata, "Jangan bingung, ini pasti akan berlalu. " Kedua, kamu menempatkan ponselmu, menatap mata mereka, mendengarkan dengan sepenuh hati, dan bertanya dengan tulus, "Pasti sangat berat bagimu. Ceritakan lebih lanjut, bagaimana bisa sampai seperti ini? " Perbedaan antara kedua respons ini menunjukkan jarak antara mendengar secara pasif dan mendengarkan secara aktif.
Mendengar secara aktif atau active listening merupakan kemampuan memberikan perhatian sepenuhnya kepada orang yang sedang berbicara, bukan hanya dengan telinga, tetapi juga dengan keseluruhan keberadaan kita.
Contohnya adalah dengan menghilangkan segala gangguan, menahan keinginan untuk langsung memberi pendapat, serta fokus untuk memahami perasaan dan sudut pandang mereka. Psikolog Carl Rogers, yang dikenal sebagai pelopor terapi yang berfokus pada klien, menyatakan bahwa mendengarkan dengan empati adalah hadiah terbaik yang bisa kita berikan kepada orang lain. Saat seseorang merasa didengarkan sepenuhnya, mereka merasa dihargai, dipahami, dan tidak sendirian dalam kesulitan yang mereka hadapi.
Contoh nyata dari kurangnya mendengarkan secara aktif dapat kita lihat dalam interaksi sehari-hari.
Seseorang yang mengirimkan pesan panjang tentang kehilangan orang tercintanya, mencurahkan kesedihannya dengan kata-kata yang penuh emosi. Jawaban yang seringkali muncul biasanya seperti, "Semoga cepat pulih" atau "Sabar ya. " Meskipun niat baik ada, tanggapan singkat tersebut justru terasa kurang hangat. Sebaliknya, mendengarkan secara aktif dalam konteks digital bisa berupa: "Aku tidak bisa membayangkan betapa beratnya perasaanmu sekarang. Jika kamu memerlukan seseorang untuk berbicara atau hanya ingin didengar, aku di sini. " Tanggapan ini mencerminkan kehadiran emosional, bukan hanya kehadiran fisik.
Teknologi modern sebenarnya dapat memberikan peluang untuk meningkatkan kemampuan mendengarkan kita, tetapi juga bisa menjadi halangan yang signifikan.
Video call memungkinkan kita untuk "hadir" bagi orang-orang terdekat meskipun terpisah oleh jarak, tetapi melakukan multitasking saat video call, seperti membuka email atau memeriksa tab lain, dapat mengurangi kualitas kehadiran tersebut dan mengganggu konsentrasi dalam mendengarkan.
Mengasah kemampuan mendengarkan secara aktif memerlukan latihan yang konsisten.
Mulailah dengan hal-hal kecil, misalnya saat berbicara dengan orang lain, berkomitmen untuk tidak memotong pembicaraan. Tahan dorongan untuk segera memberikan solusi atau membandingkan dengan pengalaman pribadi. Gunakan teknik pencerminan seperti, "Jadi yang kamu maksud adalah. . . " untuk memastikan bahwa kita memahami dengan benar. Ajukan pertanyaan terbuka yang memberi peluang bagi orang lain untuk berbicara lebih dalam, seperti "Apa perasaanmu tentang itu? " bukan hanya menjawab ya atau tidak. Yang terpenting, tunjukkan perhatian lewat bahasa tubuh: tatapan mata, anggukan, dan postur tubuh yang terbuka.
Ada saat-saat dalam hidup saat mendengarkan menjadi kekuatan yang paling berarti.
Misalnya, jika seorang teman kehilangan pekerjaannya dan merasa tidak berhasil, ungkapan seperti "masih banyak pilihan di luar sana" atau "ini adalah jalan terbaik yang diberikan" dapat terdengar meremehkan. Namun, dengan duduk bersamanya dan mendengarkan ketakutannya serta kekecewaannya tanpa memberikan penilaian, serta membiarkannya menangis jika perlu, itu adalah dukungan yang sejati. Terkadang, kehadiran kita yang tenang lebih berarti dibandingkan hanya dengan kata-kata penghibur. Kehadiran yang tulus dan hangat adalah suatu anugerah yang tidak dapat dinilai.
Studi tentang komunikasi antara manusia menunjukkan bahwa sekitar 70-80 persen dari cara kita berkomunikasi berlangsung dalam bentuk non-verbal dan bergantung pada konteks.
Mendengarkan bukan sekadar tentang menangkap ucapan, tetapi juga mencakup nada suara, gerak tubuh, jeda, dan hal-hal yang tidak terucapkan. Dengan mendengarkan secara penuh, kita bisa memahami nuansa halus, seperti ketika seseorang berkata, "Aku baik-baik saja," yang sebenarnya berarti, "Aku merasa hancur, tetapi tidak tahu harus mulai dari mana. " Pemahaman ini hanya dapat didapatkan melalui konsistensi dan perhatian penuh dalam mendengarkan, bukan dengan memberikan respon yang cepat atau jawaban yang klise.
Di tengah keramaian dunia saat ini, jadilah tempat yang tenang bagi orang-orang di sekitar.
Jadilah orang yang pertama mereka hubungi saat beban hidup terasa berat. Bukan karena kamu memiliki semua solusi, tetapi karena kesediaanmu untuk mendengarkan setiap pertanyaan mereka. Dengan cara ini, kamu menciptakan ruang yang aman di mana mereka dapat berbagi dengan leluasa tanpa rasa takut dihakimi, sehingga hubungan antara kalian menjadi lebih kuat dan berharga.
Kemampuan untuk mendengarkan adalah investasi yang bermanfaat bagi hubungan antar manusia, karena ini akan menghasilkan rasa saling percaya, kedekatan, dan ikatan yang tulus.
Di dunia yang semakin saling terhubung namun cenderung membuat kita merasa kesepian, hubungan yang autentik menjadi hal yang paling berharga. Oleh karena itu, latihlah kemampuan ini mulai sekarang untuk membangun hubungan yang kokoh dan penuh makna.
