Oleh Budi Nur Salekhah | Mahasiswa Semester IV Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam, STAI Al-Fatah
Di kampus, khususnya di STAI, hari-hari para mahasiswa sering kali dipenuhi beragam kegiatan. Ada yang terlibat dalam rapat organisasi, menyelesaikan tugas yang mendekati deadline, menjadi panitia acara, hingga melakukan pengabdian kepada masyarakat. Terkadang waktu terasa berlalu begitu cepat, sementara tanggung jawab terus muncul. Namun di tengah kesibukan tersebut, ada satu aspek yang tetap dijunjung tinggi oleh banyak mahasiswa STAI: nilai-nilai keagamaan. Terutama saat memasuki bulan Dzulhijjah, nuansa spiritual menjadi lebih terasa. Bulan ini tidak hanya berkaitan dengan Idul Adha dan hewan kurban, tetapi juga sebagai kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah di tengah kesibukan duniawi.
Bulan Dzulhijjah memiliki banyak keistimewaan dalam agama Islam. Bahkan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dikenal sebagai waktu terbaik untuk beramal saleh. Di bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak berbagai ibadah seperti puasa sunnah, dzikir, sedekah, membaca Al-Qur'an, serta memperbaiki hubungan sosial. Bagi mahasiswa, Dzulhijjah mengingatkan bahwa pencapaian akademik dan organisasi harus selaras dengan kedalaman iman. Sebab, pengetahuan tanpa nilai spiritual akan terasa hampa, sementara ibadah yang tidak didasari ilmu tidak akan berkembang dengan baik.
Mahasiswa masa kini hidup di era yang serba cepat. Media sosial banyak memberikan gangguan, tugas kuliah terus menerus berdatangan, dan seringkali ambisi dunia membuat seseorang lupa untuk sejenak memperhatikan kondisi hatinya. Oleh karena itu, Dzulhijjah muncul sebagai ruang relaksasi untuk jiwa. Bulan ini mengajarkan bahwa kehidupan tidak hanya berfokus pada pencapaian duniawi, tetapi juga pada bagaimana setiap langkah mendapatkan ridha dari Allah. Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk menunaikan haji ke tanah suci, tetapi setiap umat Muslim tetap memiliki peluang yang sama untuk mendapatkan pahala besar melalui amal-amal kecil yang dilakukan dengan tulus.
Semangat Dzulhijjah juga menekankan pentingnya pengorbanan. Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail bukan sekadar catatan sejarah, melainkan pelajaran tentang kepatuhan dan ketulusan hati. Para mahasiswa juga memiliki bentuk "pengorbanan" masing-masing. Ada yang mengorbankan waktu istirahat untuk membantu kegiatan dakwah kampus, ada yang menahan diri dari hal-hal tidak berguna agar lebih konsentrasi belajar, dan ada pula yang berusaha tetap jujur serta menjaga akhlak di tengah lingkungan yang kadang sulit. Semua itu merupakan bagian dari perjuangan menuju keridhaan Allah.
Akhirnya, bulan Dzulhijjah menjadi pengingat bahwa menjadi mahasiswa bukan hanya tentang mengejar gelar, tetapi juga tentang membangun karakter dan mendekatkan diri kepada Allah. Kesibukan organisasi, tugas kuliah, dan aktivitas sosial seharusnya tidak menghalangi seseorang dari nilai-nilai agama. Justru dari situ mahasiswa belajar bahwa Islam tidak mengajarkan untuk mengabaikan dunia, melainkan untuk menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhirat. Karena bagaimanapun jauh seseorang melangkah, tujuan akhirnya tetap sama: menggapai ridha Allah dan menjadi individu yang bermanfaat bagi orang lain.
